Pahitnya Dolar AS di Era Soeharto, Meledak dari Rp 415 ke Rp 16.650

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Selasa, 08 Jun 2021 12:36 WIB
Portrait dated 1970s of Indonesian President Mohamed Suharto. (Photo by - / AFP)
Foto: AFP/-
Jakarta -

Berbagai peristiwa ekonomi di masa pemerintahan Soeharto tak mudah untuk dilupakan. Salah satu yang mungkin paling diingat adalah meledaknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga masuk level tertinggi sepanjang sejarah.

Rupiah sudah mengalami perjalanan panjang sampai dolar AS sekarang berada di kisaran Rp 14.000an. Semua dimulai ketika Soeharto menjadi presiden menggantikan Soekarno pada 1967.

Pada saat itu disebut-sebut sebagai masa pemulihan ekonomi. Sebelum peralihan tongkat kepemimpinan memang tengah terjadi gejolak perekonomian. Pemerintah Orde Lama tak bisa mengatasi krisis ekonomi yang terjadi di penghujung 1950-an. Imbasnya, inflasi sempat meroket atau biasa disebut hiperinflasi, yang mencapai 635% pada 1966.

Dengan berbagai kebijakan ekonomi, pemerintah Orde Baru mampu meredam hiperinflasi itu. Franciscus Xaverius Seda (Menteri Keuangan 1966-1968) menjadi aktor utama dari upaya menekan inflasi menjadi 112%.

Frans mengatasi permasalahan ekonomi saat itu dengan cara menerapkan model anggaran penerimaan dan belanja yang berimbang. Hal itu untuk meredam imbas dari kebijakan pemerintahan sebelumnya yang rajin mencetak uang. Upaya yang dilakukan pemerintah Orde Baru terbilang berhasil saat itu. Ekonomi RI mulai stabil.

Salah satu vitamin dari sembuhnya perekonomian ketika RI di bawah pimpinan Soeharto kembali bergabung dengan lembaga pemberi utang dunia alias International Monetary Fund (IMF) pada 1967. Sebelumnya Presiden Soekarno sudah mencabut keanggotaan Indonesia di IMF pada 1965 karena permasalahan politik.

Pada era orde baru, Indonesia jadi anggota IMF sejak mengalami titik penting lainnya saat terjadi booming minyak pada periode 1974-1982. Tingginya harga minyak di pasar internasional membuat pemerintah orde baru mendapatkan pemasukan yang cukup besar.

Pada 1977 Indonesia memproduksi begitu banyak minyak hingga mencapai 1,68 juta barel per hari, sementara konsumsi BBM rakyat Indonesia hanya sekitar 300.000 barel per hari. Ini yang menyebabkan Indonesia masuk dalam organisasi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries).

Besarnya pemasukan negara dari sektor minyak, membuat pemerintah orde baru memiliki amunisi untuk melakukan pembangunan. Pembangunan yang dilakukan saat mengarah pada tujuan sosial.

Menurut data sejarah yang dicatat Bank Indonesia (BI), kondisi itu memungkinkan pemerintah memacu kegiatan pembangunan ekonomi dan melaksanakan program pemerataan pembangunan lewat penyediaan kredit likuiditas, termasuk pemberian kredit untuk mendorong kegiatan ekonomi lemah.

Namun, pengucuran deras kredit perbankan tersebut mengakibatkan uang beredar meningkat dalam jumlah yang cukup besar. Akibatnya, tingkat inflasi 1973/1974 melonjak tajam menembus angka 47%.

Pemerintahan Soeharto kembali berbenah diri dengan melakukan program stabilisasi. Pada 1974/1975 inflasi pun turun menjadi 21%. Hal ini memberi peluang Pemerintah untuk menurunkan suku bunga deposito dan kredit jangka pendek terutama ekspor dan perdagangan dalam negeri pada Desember 1974 guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Halaman selanjutnya dolar AS meledak jadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

Tonton juga Video: Dolar AS 'Perkasa' Tapi Dibungkam Rupiah

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2