Tunda Vista, Microsoft Diserang
Kamis, 23 Mar 2006 10:49 WIB
Jakarta - Microsoft kini tengah mendapat 'serangan' di pasar saham dan para pengamat industri menyusul penundaan peluncuran Windows Vista. Pada Selasa, 21 Maret lalu, perusahaan software terbesar dunia itu secara resmi mengumumkan penundaan peluncuran Windows Vista. Sistem operasi anyar itu baru akan meluncur awal 2007. Pengembangan Windows Vista diyakini akan selesai tahun ini. Namun penjualannya baru akan dilakukan awal tahun 2007.Jim Allchin, co-president of platform, products and services division Microsoft mengatakan, penundaan itu menyebabkan beberapa produsen PC tak siap meluncurkan produk berbasis Windows Vista tahun 2006 ini.Penundaan ini dikhawatirkan akan memberi pukulan pada industri PC. Pasalnya penjualan PC berbasis Windows Vista diharapkan bisa meramaikan penjualan PC global, apalagi jika dilakukan di 'musim belanja' akhir tahun 2006.Setelah pengumuman tersebut, saham Microsoft dalam perdagangan Rabu, 22 Maret 2006 di Bursa Nasdaq langsung melorot hingga 2,13 persen menjadi US$ 27,15. Namun saham perusahaan pembuat PC seperti Dell berhasil pulih dan ditutup naik 0.46% menjadi US$ 30,41 dolar.Sementara rival Microsoft yakni Apple sahamnya sempat naik, sebelum akhirnya juga ditutup turun 0,23% menjadi US$ 61,67. Penurunan saham Apple disebabkan karena lolosnya UU di parleman Prancis yang dapat mempengaruhi bisnis iTunes."Ini jelas sekali mengecewakan bagi industri PC yang berharap Vista akan mendongkrak penjualan saat musim liburan. Ini tidak hanya akan memukul perusahaan dalam menjalankan bisnisnya ke depan, namun jelas-jelas merupakan suatu kemunduran," tegas Matt Rosof, konsultan independen seperti dikutip dari AFP, Kamis (23/3/2006)."Dengan peluncuran sistem operasi baru bukan pada saat musim yang ramai, Microsoft harus menghadapi rendahnya permintaan pada Oktober dan November. Dan risiko selanjutnya adalah mereka harus menjual produk tersebut pada harga diskon. Industri yang telah menghadapi tantangan serius ini kembali mendapat tekanan pada harga dan marjin," tegas analis Brian Gammage.
(qom/)











































