Simak! BI Ungkap Penyebab Rupiah Keok Lawan Dolar AS

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 22 Jul 2021 15:49 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah akhirnya tembus ke level Rp 15.000. Ini adalah pertama kalinya dolar AS menyentuh level tersebut pada tahun ini.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 21 Juli 2021 melemah 0,29% secara point to point dan 1,14% secara rata-rata dibandingkan akhir Juni 2021.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan perkembangan nilai tukar rupiah tersebut dipengaruhi penyesuaian aliran modal keluar dari negara berkembang yang didorong oleh perilaku flight to quality di tengah pasokan valas domestik yang masih memadai.

Dia menyebut dengan perkembangan tersebut, rupiah sampai dengan 21 Juli 2021 mencatat depresiasi sekitar 3,39% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020.

"Relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi dari mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand," kata Perry dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/7/2021).

Dia mengungkapkan BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2021 tercatat sebesar US$ 137,1 miliar, setara dengan pembiayaan 9,2 bulan impor atau 8,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Ke depan, defisit transaksi berjalan pada 2021 diprakirakan tetap rendah di kisaran 0,6-1,4% dari PDB, sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia," ujar Perry.

Defisit transaksi berjalan triwulan II-2021 diprakirakan tetap rendah, didukung oleh surplus neraca perdagangan sebesar US$ 6,30 miliar, meningkat dibandingkan dengan surplus kuartal sebelumnya sebesar US$ 5,56 miliar.

Kinerja positif tersebut ditopang oleh peningkatan ekspor komoditas utama seperti CPO, batu bara, besi dan baja, serta kendaraan bermotor, di tengah kenaikan harga komoditas dunia.

Perbaikan ekspor terjadi di Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta Jawa. Sementara itu, neraca modal diperkirakan mengalami surplus didukung oleh aliran modal masuk dalam bentuk penanaman modal asing dan investasi portofolio.

Investasi portofolio pada kuartal II 2021 mencatat net inflow sebesar US$ 4,28 miliar. Namun demikian, memasuki triwulan III (hingga 19 Juli 2021), investasi portofolio mencatat net outflow sebesar US$ 0,70 miliar sejalan ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.

Lihat juga video '6 Indikator Ini Tunjukkan Ekonomi Indonesia Mulai Pulih':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/ara)