Pascadivestasi 3 Anak Usaha, Bumi Masih Pinjam Kredit
Senin, 27 Mar 2006 11:17 WIB
Jakarta - Meski telah mengantongi dana US$ 3,2 miliar dari hasil diavestasi anak usahanya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih melakukan pinjaman kredit. Dalam laporan ke BEJ akhir pekan lalu, Bumi menjelaskan, pihaknya telah menandatangani perjanjian kredit senilai US$ 200 juta dengan Credit Suisse First Boston (CSFB) Singapura.Direktur Bumi Eddie J. Soebari menjelaskan, bahwa penandatanganan kredit itu dalam rangka pinjaman baru dengan jangka waktu sampai 1 Juli 2006.Pinjaman itu, ungkap Eddy, akan digunakan untuk menambah modal kerja dan pembiayaan kembali sebagian utang perseroan.Eddy juga menegaskan, pinjaman tersebut bukan merupakan transaksi material dan tidak memiliki benturan kepentingan seperti yang diatur Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).Bumi pada 16 Maret lalu, menjual PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 95 persen,PT Arutmin Indonesia sebesar 100 persen dan PT Indocoal Resources Limited sebesar 100 persen, dengan total nilai penjualan mencapai US$ 3,2 miliar.Perjanjian jual beli dilakukan dengan PT Borneo Lumbung Energi yang merupakan afiliasi dari PT Renaissance Capital.Sebelumnya, dalam paparan publik pada 21 Maret lalu, Presdir Bumi, Ari S Hudaya mengatakan, Bumi akan merger dengan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) pada Juli 2006. Merger dua kelompok usaha Bakrie ini akan dilakukan dengan mekanisme share swap atau tukar saham.Aksi Bumi ini tidak berhenti sampai disini. Menurut Ari, dalam enam bulan ke depan Bumi masih akan melakukan tindakan korporasi material lainnya, dengan melakukan akuisisi aset yang sejalan dengan strategi usaha Bumi.Usai merger, ungkap Ari, Bumi akan fokus pada bidang batu bara cair atau coal to liquid (CTL). Proyek CTL ini akan mulai produksi empat tahun kedepan setelah didirikan perusahaan gabungan. Rencananya pembangunan akan dilakukan pada pertengahan tahun depan.Beberapa rencana bisnis yang dilirik Bumi antara lain membeli tambang emas di Gorontalo dan tambang biji besi di Mauritania, Afrika, serta terjun ke bidang synthetic oil dari batubara. Pembuatan minyak pelumas sintetis itu membutuhkan investasi sekitar US$ 3,4 miliar.
(ir/)











































