Suplai Terbatas, Investor Masih Enggan Lirik Obligasi Ritel

Suplai Terbatas, Investor Masih Enggan Lirik Obligasi Ritel

- detikFinance
Rabu, 29 Mar 2006 12:56 WIB
Jakarta - Suplai obligasi ritel baik yang dikeluarkan pemerintah maupun korporasi saat ini masih terbatas. Sehingga investor sulit untuk mengalihkan dananya dari deposito ke obligasi.Padahal obligasi ritel ini memiliki prospek pasar yang baik, karena bisa menjadi salah satu instrumen investasi yang cocok bagi masyarakat Indonesia."Jadi kalau orang mau beli katakanlah deposan yang mau pindah ke deposito suplainya tidak ada di pasar, jadi tidak mungkin dana perbankan itu shifting semua ke obligasi karena keterbatasan instrumen," kata Direktur Bursa Efek Surabaya (BES), Guntur Pasaribu.Hal itu diungkapan Guntur, disela acara seminar investasi yang diselenggarakan Korea-Indonesia Knowledge sharing Project (KSP) di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (29/3/2006).Guntur menjelaskan, dana pihak ketiga yang ada di perbankan saat ini mencapai Rp 1.100 triliun. Dengan tingkat bunga 10 persen maka dana dari bunga tersebut sekitar Rp 110 triliun.Sementara pemerintah pada tahun 2006 akan mengeluarkan obligasi Rp 24,5 triliun. Guntur mengasumsikan, jika pemerintah mengeluarkan obligasi ritel sebesar 20 persen maka jumlahnya sekitar Rp 5 triliun.Sedangkan obligasi baru yang dikeluarkan oleh korporasi tahun ini diperkirakan mencapai Rp 10 triliun, dengan porsi ritel sekitar 10 persen atau Rp 1 triliun.Ini berarti jumlah obligasi ritel yang tersedia tahun ini hanya sebesar Rp 6 triliun. Jumlah ini sangat tidak memadai jika deposan akan memutarkan bunga depositonya yang mencapai Rp 110 triliun.Maka itu ungkap Guntur, yang harus diperhatikan saat ini adalah instrumen obligasi harus dibuat selikuid mungkin. Masyarakat yang akan membeli harus terproteksi dalam arti harus memiliki bencmark dan ada acuan harganya.Guntur menilai, Surat Utang Negara (SUN) ritel merupakan investasi yang paling cocok dengan kultur investasi masyarakat Indonesia. "Mereka meminta bunga yang tinggi tapi aman, ada pendapatan yang tetap tapi tidak volatil. Pendapatan tetap ini adalah SUN ritel itu, yang paling cocok untuk Indonesia karena tidak jauh dengan deposito," tutur Guntur.Yang harus dilakukan pemerintah saat ini, menurut Guntur, adalah melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai risiko maupun capital gain dari SUN ritel, supaya tidak ada kesalahpahaman. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads