Prospektus GoTo Ditunggu Investor Buat Kempit Saham Pas IPO

Tim detikcom - detikFinance
Kamis, 19 Agu 2021 14:50 WIB
Gojek dan Tokopedia resmi merger dan menghasilkan grup GoTo.
Foto: Dok. GoTo

Seperti diketahui, sebelum melakukan IPO, setiap perusahaan wajib menyampaikan prospektus IPO yang berisikan semua informasi terkait kondisi bisnis, prospek dan tantangan bisnis ke depan serta para pemegang sahamnya.

Dengan regulasi yang sudah diatur secara ketat, maka setiap perusahaan yang IPO akan menyampaikan informasi bisnisnya secara mendetail. Karena sesungguhnya IPO adalah satu cara sebuah entitas bisnis untuk mendapat dan memperkuat kepercayaan publik.

Menurut Robertus, yang menjadi kekhawatiran investor harga saham GoTo akan turun jika tidak menggunakan Lock Up saham tidak benar. Sebab di luar negeri sudah banyak yang menerapkan hal seperti itu.

"Di luar negeri sudah lumrah dilakukan berbagai mekanisme seperti direct listing dan atau melalui SPAC (special purpose acquisition company)," katanya.

Robertus juga menekankan yang perlu dipahami oleh investor dalam berinvestasi di pasar saham adalah fundamental dari perusahaan itu sendiri. Sebab jika dilihat, GoTo merupakan Unicorn terbesar Indonesia saat ini. Dimana perusahaan teknologi itu memiliki sebuah ekosistem bisnis yang semakin matang dengan jutaan konsumen dan transaksi ratusan triliun rupiah per tahun. GoTo juga sangat berpotensi untuk semakin berkembang, begitu juga seharusnya dengan harga sahamnya.

Robertus yakin bahwa investor sudah memahami hal tersebut sehingga Ia yakin peminat saham GoTo akan sangat tinggi.

"Peminatnya (saham GoTo) berpotensi lebih besar dari BUKA, karena ukuran grup GoTo yang juga jauh lebih besar, dan menguasai pangsa pasar industrinya," pungkas Robertus.

GoTo merupakan gabungan tiga entitas bisnis pemimpin pasar ride hailing dan pesan antar makanan, pembayaran dan layanan keuangan, serta e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Dengan valuasi yang ditaksir mencapai USD40 miliar, kapitalisasi GoTo pasca IPO diperkirakan masuk lima besar di BEI.

Ditengah kondisi pandemi saat ini jumlah investor pasar modal terus bertambah. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI, per April 2021, jumlah investor pasar modal mencapai 5.088.093 SID.


(dna/dna)