Rencana IPO Rp 14 T J&T Express 'Belok', dari AS ke Hong Kong

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 30 Agu 2021 14:52 WIB
Perluas Jaringan, J&T Express Ekspansi Rp 1,3 T
Foto: Dok. J&T Express
Jakarta -

J&T Express, sebuah perusahaan kurir asal Indonesia tengah mempertimbangkan kembali rencana initial public offering (IPO). Sebelumnya perusahaan hendak melakukan IPO di AS, kini mempertimbangkan untuk melakukannya di Hong Kong.

Melansir Straits Times, Senin (30/8/2021), menurut sumber J&T Express tengah melirik pasar modal Hong Kong dan berencana melakukan IPO dengan target dana yang dihimpun sekitar US$ 1 miliar atau setara Rp 14,3 triliun.

Dalam melakukan IPO, perusahaan yang berbasis di Jakarta ini bekerja sama dengan Bank of America, China International Capital (CIC) dan Morgan Stanley.

Sebelumnya diberitakan J&T berencana untuk melakukan IPO di AS pada kuartal keempat. Kemungkinan perubahan tempat terjadi karena regulator China telah mengumumkan pengawasan terhadap perusahaannya yang terdaftar di luar negeri.

Meskipun J&T adalah perusahaan Indonesia, beberapa investornya berbasis di China dan perusahaan logistik tersebut memiliki operasi yang signifikan di China. Kebijakan pemerintah China telah memicu kekhawatiran di dalam perusahaan tentang kemungkinan pengawasan dari regulator di Beijing.

Persiapan untuk listing di Hong Kong berada pada tahap awal, dan rincian rencana IPO J&T Express, termasuk besar dan timeline masih bisa berubah kata sumber tersebut. Disebutkan juga setelah melakukan IPO di Hong Kong, perusahaan juga akan mendaftar IPO di AS.

Perwakilan Bank of America, CICC, J&T dan Morgan Stanley menolak berkomentar terkait kabar tersebut.

J&T Express sendiri didirikan pada tahun 2015 oleh pengusaha Jet Lee dan Tony Chen. J&T Express beroperasi di Kamboja, Cina, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Vietnam. Perusahaan memiliki lebih dari 350.000 karyawan di seluruh dunia.

Di China, J&T dikenal dengan harga bersaing dan ekspansi yang agresif. Perusahaan mampu bersaing dengan kompetitornya seperti SF Holding dan YTO Express Group, yang didukung oleh Alibaba Group Holding.

Rencana J&T Express yang akan bergabung dengan sejumlah perusahaan berencana listingnya di New York sempat diragukan di tengah meningkatnya ketegangan AS dengan China. Perusahaan lainnya, seperti media sosial dan situs e-commerce Xiaohongshu, atau Little Red Book, telah menunda rencana listing AS.

Secara terpisah, Komisi Sekuritas dan Bursa AS telah meminta perusahaan China yang mencari listing di luar negeri untuk memberikan deskripsi yang semakin rinci tentang apa yang disebut struktur perusahaan entitas kepentingan variabel yang digunakan perusahaan tersebut untuk listing di luar negeri.

(das/fdl)