Harga Emas Mulai Naik, Ini Pengaruhnya ke Keuangan Antam

Tim Detikcom - detikFinance
Rabu, 15 Sep 2021 14:02 WIB
Karyawan menunjukan emas batangan di Butik Emas Antam, Kebon Sirih, Jakarta, Senin (18/1/2021). Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk pada Senin (18/1) berada pada posisi Rp 944.000 per gram atau turun Rp4.000 dari perdagangan akhir pekan lalu. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Jakarta -

Harga emas Antam berangsur naik dalam beberapa hari ini. Kenaikan harga emas dunia juga Antam dinilai akan berpengaruh signifikan pada laba perseroan.

Analis Pasar dari ESANDAR Arthamas Lukman Haqeem mengatakan, laba kotor PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) triwulan pertama yang tumbuh 189% (yoy) sudah diprediksi. Tumbuhnya laba didorong

"Kenaikan laba yang sangat masif tersebut tidak mengejutkan apabila berkaca pada kenaikan tren investasi emas. Harga emas yang relatif stabil dan cenderung naik, emas menjadi pilihan masyarakat luas dalam menyikapi kondisi ekonomi yang tidak menentu," kata Lukman Hqeem, dalam keterangannya, Rabu (15/9/2021).

Dia melanjutkan, tren memilih investasi emas juga naik selama pandemi berlangsung. Pasalnya, dampak krisis ekonomi global diperparah dengan pandemi membuat masyarakat was-was dengan asetnya. Untuk melakukan lindung nilai, tak heran pilihannya adalah mengakumulasi pembelian fisik emas.

"Ke depan, dengan tren harga emas dunia yang masih diyakini akan naik setidaknya pada harga $1900 per troy ons pada akhir tahun ini atau di semester pertama 2022, potensi pendapatan Antam masih akan sangat positif. Saham Antam masih akan menjadi tujuan investasi menarik bagi investor baik untuk tujuan jangka pendek dan jangka panjang," jelasnya.

Disisi lain, potensi kenaikan harga logam dunia juga bisa menjadi pertimbangan bahwa produk-produk Antam akan semakin besar kontribusinya bagi pendapatan perusahaan. Ditambah dengan vaksinasi yang sudah banyak dilakukan, hal ini mulai terlihat menggerakkan perekonomian global.

"Sebagian industri sudah mulai beroperasional, ini berarti akan ada potensi peningkatan permintaan bahan baku termasuk sejumlah logam yang selama ini menjadi produk Antam. Oleh sebab itu, potensi pendapatan perusahaan di Semester kedua dan kwartal ketiga atau empat, masih sangat positif," paparnya.

Seperti diketahui beberapa waktu lalu saat public expose pada 9 September 2021, ANTM melaporkan adanya lonjakan kinerja keuangan ANTM yang solid, tercermin dari capaian Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) pada kuartal satu tahun ini sebesar Rp 1,24 triliun. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan capaian EBITDA pada Triwulan Pertama Tahun 2020 (sebesar Rp34,13 miliar atau tumbuh 36 kali. Pertumbuhan EBITDA yang positif terutama didukung oleh kinerja operasi dan penjualan komoditas utama ANTM yang solid serta peningkatan efisiensi biaya, sehingga tercapai biaya tunai operasi ANTM yang optimal.

"Sementara itu capaian laba usaha Perusahaan pada kuartal satu 2021 tercatat sebesar Rp 793,89 miliar, melonjak 477% dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 137,54 miliar. Faktor pendukung tercapainya peningkatan ini adalah pertumbuhan tingkat penjualan serta pengelolaan biaya beban pokok penjualan dan usaha yang optimal. Pertumbuhan positif laba kotor dan laba usaha mendukung capaian laba tahun berjalan kuartal pertama Antam sebesar Rp630,38 miliar, naik dari rugi tahun sebelumnya sebesar Rp 281,84 miliar," kata sekretaris perusahaan Antam, Yulan Kustiyan.

(zlf/zlf)