Mirip Squid Game, Ini Alasan Investor Newbie Cepat 'Mati' di Pasar Saham

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 12:46 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Ketakutan dan ketamakan menjadi sifat manusia yang dipermainkan dalam serial televisi asal Korea Selatan, Squid Game. Ternyata hal itu mirip dengan kondisi yang dialami para investor baru atau newbie di pasar modal.

CEO & Founder Emtrade, Ellen May menjelaskan ada dua emosi yang tak bisa dikontrol oleh investor newbie, yakni ketamakan dan ketakutan. Hal itu menyebabkan mereka terlalu fokus mengejar gain dari harga saham,

"Seperti di Squid Game, jadi dikasih reward gede dulu, kemudian dikasih juga fear-nya. Kalau nggak ikut bakalan mati. Kalau nggak ikut di dunia luar bakalan ditagih utang dan dibunuh juga oleh rentenir. Di sini sama juga ketika bermain saham kadang-kadang dimainkan juga oleh fear dan greed," ucapnya dalam acara SimINvestLab, Kamis (7/10/2021).

Ellen melanjutkan, investor newbie biasanya selalu berpikir ingin untung besar dengan cepat. Nah sifat ketamakan itu terkadang juga didorong oleh ketakutan, seperti misalnya butuh uang untuk membayar cicilan dan sebagainya.

Menurut Ellen hal itulah yang membuat para investor newbie gagal saat memulai investasi. Kedua sifat itulah yang menjadi tantangan tersendiri bagi investor pemula ketika terjun ke pasar modal.

Dengan sifat itu terkadang investor newbie mencari jalan pintas dengan mengikuti keputusan orang yang dianggap sebagai panutan. Padahal setiap orang memiliki pertimbangan yang berbeda dalam mengambil keputusan transaksi di pasar modal.

"Jadi mereka lebih ngikutin si A si B. Ya mereka si sah-sah aja mau ambil keputusan itu, yang salah yang ngikutin. Kalau keputusannya salah nanti nyalahin si A dan si B bilang dia pompom saham," tuturnya.

Kesalahan lainnya menurut Ellen May adalah investor newbie di awal selalu mengambil langkah untuk belajar analisis teknis. Padahal menurutnya analisis teknis merupakan hal yang mudah dikuasai. Justru yang harusnya dikuasai terlebih dahulu adalah pola pikir.

"Analisis teknikal itu sebenarnya 1-2 bulan sudah menguasai. Tapi sebenarnya di awal yang perlu dibenerin mindsetnya dulu. Jangan jadikan pasar saham sebagai mesin jackpot uang," tegasnya.

Pola pikir yang harus ditanamkan oleh investor pemula adalah pasar saham merupakan investasi yang bisa memberikan return secara konsisten, bukan memberikan keuntungan besar dalam waktu yang cepat. Jika pola pikir di awal sudah serakah, maka mereka akan dikuasai ketamakan dan tidak bisa berpikir jernih dalam berinvestasi.

"Jadi manage ekspektasi dulu. Kalau ekspektasi kita tidak terlalu tinggi membuat kita bisa lebih fokus belajar. Kemudian bisa membatasi risiko itu secara nyaman," ucapnya.



Simak Video "Kuliner Kekinian Profit Pesat Buntung Cepat"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)