Rupiah Perkasa, Dolar AS Tumbang ke Rp 14.057

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 20 Okt 2021 09:26 WIB
Mata Uang Dollar Amerika.
dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini kembali melemah. Dolar AS tergelincir 68 poin (0,48%) pagi ini dan bertengger di level Rp 14.057.

Demikian dikutip dari data RTI, Rabu (20/10/21). Hingga pukul 09.25 WIB, dolar AS terpantau bergerak di rentang Rp 14.046-14.127.

Jika dibandingkan selama sepekan terakhir, dolar AS tercatat masih kalah unggul 1,08%. Pergerakannya ada di rentang Rp 13.986-14.229.

Sementara jika ditarik selama sebulan terakhir, kurs dolar AS melemah 1,26% terhadap rupiah. Pergerakannya ada di rentang Rp 13.986-14.336.

Meski keok terhadap rupiah, dolar AS sendiri pagi ini tercatat masih unggul terhadap sebagian mata uang lainnya pagi ini. Mata uang Paman Sam menang melawan yuan China, baht Thailand, dan dolar Taiwan. Sebaliknya, pagi ini paling kuat tertekan oleh rupiah, dolar Australia, dan dolar Selandia Baru.

Sebaliknya, rupiah pagi ini mayoritas terpantau hijau terhadap sejumlah mata uang dunia lainnya. Rupiah tercatat paling kuat menekan dolar Taiwan, baht Thailand, dan yuan China.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya mencatat nilai tukar Rupiah pada 18 Oktober 2021 menguat 1,44% secara point to point dan 0,33% secara rata rata dibandingkan dengan level September 2021.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, menariknya imbal hasil aset keuangan domestik, terjaganya pasokan valas domestik, dan langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia.

"Dengan penguatan tersebut, dibandingkan dengan level akhir 2020, Rupiah sampai dengan 18 Oktober 2021 mencatat depresiasi yang lebih rendah menjadi sebesar 0,43% (ytd)," kata dia dalam konferensi pers, Selasa (19/10/2021).

Posisi rupiah juga relatif lebih baik dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India, Malaysia, dan Filipina.

(eds/eds)