Catat! 3 Syarat Main Saham 'Short Time' Ala Scalping Biar Cuan

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 21 Okt 2021 08:30 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Ada berbagai aliran dalam berdagang saham, salah satunya adalah scalping. Sederhananya itu adalah kegiatan jual-beli beli saham dalam waktu singkat alias short time, bisa hitungan detik, menit, jam. Intinya tidak lebih dari satu hari.

Salah satu scalper -julukan bagi para scalping- yang sukses berkecimpung dengan aliran tersebut adalah Bekti Sutikna. Kepada detikcom dia membagikan 3 strategi dalam melakukan scalping.

"Yang pertama kita harus mempunyai waktu. Ini penting banget," kata dia dalam program d'Mentor Rabu (20/10/2022) malam.

Hal itu menjadi pakem yang sebaiknya jangan dilanggar oleh para scalper. Bahkan dia pribadi ketika membeli saham setelah jam perdagangan buka pukul 09.00 WIB, lalu misalnya jam 11.00 ada kegiatan maka pada saat itu juga dia melepas kepemilikan saham yang baru dia beli kurang dari 2 jam itu.

"Jadi jam 11 saya mendingan nggak pegang saham karena scalping ini, itu kan pilihan saham kita itu saham-saham yang volatilitasnya tinggi sehingga kalau ditinggal-tinggal itu akan berisiko sekali, kita nggak bisa membatasi kerugian kita dengan cara cut loss (meminimalisir kerugian)," tuturnya.

Jadi para trader yang ingin mengikuti aliran scalping pastikan memiliki banyak waktu untuk memantau setiap saat pergerakan portofolio sahamnya.

Menurutnya, gaya berdagang saham short time ini tidak cocok bagi mereka yang terikat pekerjaan ataupun pendidikan semisal mahasiswa. Sebab, mereka memiliki tanggung jawab terhadap tugasnya itu. Jadi tidak mungkin bisa mengawasi pergerakan saham setiap saat.

"Itu kan dia punya profesionalisme terhadap kerjaannya sehingga dia nggak punya waktu kan untuk trading, saran saya ini kurang cocok atau berisiko sekali," jelasnya.

Hal kedua yang harus dimiliki para scalper adalah mempunyai mental yang kuat. Sebab, style ini akan menguras semua energi dan tenaga. Trader harus siap siaga di depan monitor, memantau seharian agar tidak melewatkan momentum dan menjaga saham tidak melenceng dari rencana.

"Kadang saya pun kalau beli saham itu pas posisinya saham-saham yang volatilitas, saya itu mau ke belakang saja, ke toilet saja nanti dulu kalau sudah posisinya lepas. Jadi penting banget mental. Beda ceritanya mental ini dengan style-style lainnya. Kalau seorang investor beli saham cara kerjanya kan memang disimpan ya sudah, tidak terlalu was-was. Tetapi kalau scalping nggak bisa, kita harus jaga, mental nomor dua penting," tutur Bekti.

Strategi ketiga, lanjut dia adalah harus selalu menyiapkan punya cash. Sebab, scalping ini observasinya lebih lama, bisa dikatakan 80% observasi, 20% eksekusi sehingga ketika scalper sudah menemukan saham yang cocok bisa langsung dibeli.

Dana untuk membeli saham ini harus selalu siaga karena sesuai kodratnya, scalping adalah trading saham kilat, setiap detiknya sangat berharga agar tak kehilangan momentum.

"Kalau ada peluang di market kita akan selalu bisa mengambil peluang itu. Jadi bukan kayak investasi, investasi kan kita memang membeli saham, ya sudah uang kita kita belikan saham, udah. Tetapi kalau scalping kita harus selalu punya cash supaya kalau ada momentum kita selalu bisa ikut," tambahnya.

(toy/das)