Ceroboh Ketika Scalping Saham Alamat Boncos

dtv - detikFinance
Kamis, 21 Okt 2021 15:13 WIB
Jakarta -

Gaya scalping saham diminati banyak milenial belakangan ini. Tapi kalau trading plan dengan gaya ini bisa beralamat buntung alias boncos.

"Ketika sudah niat saya sudah trading, saya harus punya trading plan. Kalau saya pribadi sudah mengukur resikonya, artinya dana yang saya pakai itu benar-benar uang dingin, saya sudah mengukur resikonya, ketika saya itu beli saham itu saya juga sudah punya patokan kalau saya minus 2 sampai 4 % tidak sesuai harapan dari harga beli saya, saya cut loss nanti kalau abis di cut loss naik bagaimana ? ini bagian dari resiko, karena di saham ada juga namanya resiko saya juga selalu tekankan bahwa di saham itu ada resikonya, tapi peluang profitnya juga banyak," ujar Profesional Trader Bekti Suktina dalam acara d'Mentor detikcom, Rabu (20/10/2021).

Bekti menjelaskan dalam trading menggunakan teknik scalping di pasar saham. Ia memiliki prinsip cut loss ketika di batas bawah dan atas.

"Ketika saham ini naik 3% - 5%, saya juga akan jual jadi saya sudah ada semacam batasan kalau turun sekian atau naik sekian saya jual. Tetapi ada kalanya kalau saham itu mau naik artinya saya melihat dari peningkatan volume, news masih bagus, cara analisa teknikal masih up trend biasanya saya diam supaya dapat profit maksimal," papar Bekti.

Lebih lanjut Bekti mengatakan prinsip cut loss harus menjadi pola pikir trader scalping atau gercep (gerak cepat). Karena itu trading saham dengan gaya ini memiliki profil high resiko.

"Kalau penurunan saya paling ketat wajib cut loss aku punya prinsip cut loss kenapa harus cut loss bukannya jadi rugi, karena di saham itu untuk seorang scalping kita memainkan berbagai harga bisa jadi kita beli itu posisi atas kalau tidak kita batasi itu resiko," lanjutnya.

Bekti menceritakan pengalaman rekannya yang tidak berani ambil keputusan cut lost, ketika trading saham. Alhasil begitu sahamnya anjlok asetnya yang dimiliki juga jatuh.

"Dia beli di harga Rp 1.700 dan dia tidak punya trading plan. begitu waktu turun dari Rp 1.700 turun ke Rp 1.600 dia rasa tidak apa-apa, nanti dia juga balik lagi. Tetapi apa ? ternyata enggak, harganya turun makin dalam dan enggak berani cut loss artinya dia cuma pasrah. Alhasil saham itu sekarang harganya cuma Rp 50 bayangkan dari Rp 1.700 menjadi Rp 50, kalau beli dikit enggak masalah, teman saya itu beli Rp 1,3 miliar sekarang nilainya Rp 37 juta. Parahnya lagi sekarang kena suspend, ini akibatnya apa kalau seperti ini, karena dia mau trading nya tidak punya trading plan dan dia tidak mau batasi cut loss alhasil seperti ini," tutupnya.

(ed/fuf)