Barito Pacific Obral Anak Usaha Rp 10 Ribu
Senin, 08 Mei 2006 13:11 WIB
Jakarta - Perusahaan kayu terpadu, PT Barito Pacific Timber Tbk (BRPT) melakukan banting harga dalam menjual anak usahanya PT Tunggal Yudi Sawmill Palywood, dengan harga obral Rp 10.000.Prinsip lebih baik dijual daripada membebani arus kas, benar-benar diterapkan perusahaan milik Prajogo Pangestu ini.Pasalnya, keuangan PT Tunggal Yudi Sawmill Palywood yang berlokasi di Samarinda, Kalimantan Timur ini, bukan main parahnya. PT Tunggal Yudi memiliki utang sebanyak Rp 207 miliar. Sedangkan asetnya hanya sebesar Rp 100 miliar. PT Tunggal Yudi juga sudah tidak beroperasi sejak Juli 2005, akibat kesulitan bahan kayu. Kondisi ini memaksa Barito melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) di PT Tunggal Yudi dengan mengeluarkan dana US$ 3 juta.PT Tunggal Yudi dijual kepada PT Mitra Haluan Abadi. Diharapkan pada bulan Mei ini, proses jual beli rampung setelah mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan."Tunggal Yudi dijual Rp 10 ribu, aset dan utangnya dipindah ke Mitra Haluan Abdai," kata Dirut Barito, Anton Hudiyana dalam paparan publik di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), senin (8/5/2006). Industri perkayuan, menurut Anton, saat ini kondisinya masih sulit karena imbas dari ketatnya pengawasan terhadap illegal logging. Ketersediaan bahan baku tersendat karena aparat gencar membasmi illegal logging. "Kita kena imbasnya tapi kita tidak menggunakan kayu illegal logging," ujar Anton.DiversifikasiMuramnya industri kayu ini, membuat manajemen memikirkan langkah untuk melakukan diversifikasi usaha.Menurut Anton, perseroan sedang menjajaki peluang usaha sunber daya alam lainnya. "Tapi saat ini belum ada, kita masih berusaha memperbaiki kinerja industri berbasis kayu," katanya.Kedepannya, perseroan akan memfokuskan produksi pada pabrik mill di Ternata dan Mangole di Maluku. Pasalnya, di dua wilayah ini hak tanam industri (HTI) dan hak pengelolaan hutan (HPH) tidak terpengaruh oleh i>illegal logging.Perusahaan juga akan menyiasati penurunan kinerja, dengan melakukan efisiensi yakni menutup fasilitas industri yang kesulitan bahan baku dan menjual aset yang tidak produktif.Sementara hingga triwulan I-2006, perseroan mencatat rugi bersih Rp 47,4 miliar, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang memperoleh laba bersih Rp 298,8 miliar.Sedangkan penjualan bersih Rp 180 miliar, turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 306,1 miliar.Anton juga menjelaskan, dampak penguatan rupiah tidak baik bagi perseroan selaku eksportir yang 85 persen produknya dijual ke luar negeri. Dalam rencana kerja anggaran tahunan (RKAT) perseroan mematok rupiah 9.000 per dolar AS. Sementara saat ini rupiah terus menguat menuju level 8.700 per dolar AS.
(ir/)











































