Wall Street 'Kebakaran' Gegara Saham Netflix Longsor 21% Lebih

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 23 Jan 2022 20:15 WIB
Pusat bisnis di New York, Wall Street terlihat kosong melompong sebagai dampak
 pandemi Covid-19, Minggu (29/3/2020).
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street 'kebakaran' pada perdagangan Jumat (21/1), imbas tertekan oleh jatuhnya harga saham Netflix sebesar 21,8%.

Buruknya pertumbuhan pelanggan layanan streaming Netflix menyebabkan saham perusahaan Amerika Serikat itu jatuh 21,8%. Hal itu semakin mengguncang pasar saham yang sudah terguncang oleh kekhawatiran terhadap bank sentral AS, Federal Reserve yang akan memperketat kebijakan moneter dengan terlalu agresif untuk melawan inflasi.

Investor pun dibuat wait and see alias menunggu rincian dari pertemuan The Fed minggu depan. Sementara data kelihatannya belum menunjukkan laju kenaikan harga konsumen melambat selama beberapa bulan. Itu membuat pekerjaan Bos The Fed Jerome Powell lebih sulit ketika dia mencoba menenangkan pasar.

"Kami tahu The Fed mulai berputar dan masalahnya adalah angka inflasi tidak akan mulai turun hingga akhir musim semi ini," kata Andrew Slimmon, direktur pelaksana Morgan Stanley Investment Management disadur detikcom dari Reuters, Minggu (23/1/2022).

Meskipun pendapatan Netflix negatif, menurutnya masih terlalu dini untuk mengetahui apakah fundamental perusahaan tidak akan terus kuat.

Pada perdagangan Jumat di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,30%, S&P 500 turun 1,89%, dan Nasdaq Composite turun 2,72%. Baik S&P 500 dan Nasdaq membukukan penurunan mingguan terbesar sejak pasar jatuh pada Maret 2020.

Dengan The Fed mengajukan kenaikan suku bunga sebanyak empat kali tahun ini, ketakutan akan hard landing (kelesuan ekonomi) telah meningkat di kalangan investor.

Tetapi ekonomi yang melambat di bulan-bulan mendatang, menurut Steven Ricchiuto, kepala ekonom AS di Mizuho Securities USA LLC mungkin akan membuat The Fed berpikir dua kali.

"Angka pertumbuhan akan melambat jauh lebih cepat daripada yang diantisipasi Fed," tuturnya.

(toy/dna)