BI Rate Turun, Rupiah Tak Peduli
Selasa, 09 Mei 2006 17:39 WIB
Jakarta - Penurunan BI rate sebesar 25 basis poin tidak berpengaruh pada pergerakan nilai tukar rupiah. Mata uang paling berkilau di Asia ini tetap stabil, bahkan diprediksi masih akan terus menguat.Pada penutupan perdagangan Selasa (9/5/2006), rupiah stabil pada level 8.735 per dolar AS. Posisi tersebut hampir menyamai dengan penutupan kemarin di level 8.738 per dolar AS.Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin mengatakan, penguatan rupiah terjadi seiring menguatnya sejumlah mata uang regional lainnya terhadap dolar AS. Aslim meyakini, meski rupiah sudah menguat tajam, namun posisinya belum overvalue."Tidak overvalue. Itu kan sejalan dengan mata uang regional lain juga menguat. Bahkan hari kemarin penguatan kita lebih rendah dari won dan baht. Kita hanya menguat 0,6 persen, padahal yang lain 0,9 persen. Yen bahkan 1 persen. Saya belum melihat ada overvalue di situ," ujar Aslim.Dia ditemui di sela-sela acara "Asia Pacific Conference and Expo (Apconex) on Banking Technology" di Plennary Hall Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (9/5/2006).Aslim menambahkan, penguatan rupiah terjadi karena masuknya capital inflow yang bersifat jangka pendek akibat adanya perbedaan suku bunga yang cukup tinggi antara suku bunga Indonesia dan AS.Selain itu, yield surat utang negara (SUN) cenderung tinggi yakni rata-rata di atas 11 persen. Demikian pula IHSG yang terus meningkat. "Sebagian besar memang masuknya ke sana," ungkapnya.Namun dilihat dari apresiasi mata uang, lanjut Aslim, apresiasi rupiah paling tinggi se-Asia. Rupiah tercatat sudah menguat hingga 13 persen, sementara won dan bahat mencapai 9 persen. Sedangkan yen menguat hingga 6 persen."Kalau penguatan rupiah selama itu bisa kita jaga stabilitasnya, fluktuasinya tidak terlalu wide, itu akan baik untuk ekonomi kita," tambahnya.Menguatnya rupiah, tambah Aslim, juga dipengaruhi oleh makin tingginya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia. Menurut Aslim, semakin rendah country risk Indonesia, maka kepercayaan dunia internasional akan semakin besar."Mereka tidak akan masuk kalau mereka tidak akan melihat country risk kita menurun. Coba lihat suku bunga tahun 1998 yang mencapai 50-60 persen. Mereka kan nggak masuk karena country risk kita tinggi," jelasnya.Aslim menambahkan, country risk suatu negara berhubungan dengan faktor fundamental dan non-fundamental ekonomi seperti masalah keamanan. Indonesia pun berharap dengan membaiknya country risk, maka outlook peringkat utang semakin baik. "Mudah-mudahan outlook kita ditingkatkan lagi. S&P dan Moody's kemarin sudah menaik kan, itu bisa men-support kita," tandasnya.
(qom/)











































