Dolar AS Mulai Bangkit
Kamis, 11 Mei 2006 09:18 WIB
Jakarta - Dolar AS akhirnya mulai pulih posisinya setelah Departemen Keuangan AS tidak menyebut Cina sebagai manipulator mata uang. Sementara kenaikan suku bunga oleh Fed justru tidak banyak membantu penguatan dolar. Setelah pengumuman kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen, dolar AS bahkan justru sempat melemah.Namun dolar AS akhirnya berhasil bangkit dari keterpurukan posisinya yang sempat menyentuh angka terendah dalam setahun terhadap euro. Demikian pula terhadap yen Jepang, yang sempat menyentuh angka terendah dalam delapan bulan. Dalam laporan dua tahunan tentang kebijakan mata uang dunia, Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa rezim mata uang Cina yang tidak fleksibel telah menyebabkan ketidakseimbangan yang membahayakan perdagangan dunia. Namun Menkeu AS John Snow mengatakan bahwa Cina dinyatakan tidak bersalah dalam memanipulasi mata uangnya sesuai dengan UU Perdagangan AS. Namun demikian, pemerintah Bush tetap merasa 'sangat tidak puas' dengan lambatnya Cina mengadopsi sistem yang lebih fleksibel untuk mata uangnya.Laporan itu dinilai akan membawa dampak yang positif terhadap dolar, terutama terhadap mata uang Asia seperti yen.Setelah keluarnya data tersebut, dolar tercatat menguat hingga 0.7 persen menjadi 111,35 yen, setelah sempat terpuruk hingga 110,10 yen pada Rabu. Sementara euro juga melemah ke 1,2725 dolar, dibandingkan sebelumnya di level 1,2785 dolar. "Kekhawatiran jangka pendek akan terjadinya kejatuhan dolar telah hilang. Dari sini, kita mestinya bisa melihat situasi pasar yang normal," ujar seorang pimpinan pialang bank investasi Eropa di Tokyo seperti dikutip dari Reuters, Kamis (11/5/2006).Mengikuti tren global, nilai tukar rupiah pun ikut melemah. Pada perdagangan hari ini, rupiah dibuka langsung melemah pada level 8.740/8.750 per dolar AS. Sementara pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup menguat tajam pada level 8.726 per dolar AS.
(qom/)











































