Hot Money Mengarah ke Investasi Jangka Panjang
Kamis, 11 Mei 2006 13:04 WIB
Jakarta - Uang panas (hot money) yang mengguyur pasar saham dan pasar uang Indonesia, sejak awal tahun ini diyakini sebagai indikator masuknya dana jangka panjang.Investor asing yang berlomba masuk ke pasar modal Indonesia dinilai bukan hanya sekadar spekulasi, tapi juga berinvestasi karena melihat prospek ekonomi Indonesia yang membaik."Hot money itu ada, tapi itu mungkin bisa jadi indikator mulai masuknya investasi jangka panjang," kata Ekonom Senior Deutsche Bank, Sanjeev Sanyal dalam jumpa pers di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (11/5/2006).Menurut Sanjeev, faktor masuknya investasi jangka panjang adalah kepercayaan. "Masuknya hot money itu bisa jadi merupakan indikator kepercayaan itu," ungkap Sanjeev.Untuk menjaga momentum mengalirnya dana asing ini, ungkap sanjeev, Indonesia perlu menunjukkan indikator kondisi ekonomi yang mulai pulih.Sanjeev juga menilai, penurunan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar 25 basis poin menjadi 12,5 persen merupakan langkah yang tepat."Karena kalau penurunan suku bunga dilakukan secara drastis justru akan menyebabkan capital outflow," jelasnya.Sebaliknya penurunan suku bunga secara terukur, merupakan indikator membaiknya kondisi ekonomi.Bank Indonesia (BI) juga diharapkan bisa terus mengakumulasi cadangan devisa untuk meredam goncangan eksternal.
(ir/)











































