ADVERTISEMENT

Sadar Nggak Rupiah Menguat Sejak Awal Tahun? Ternyata Ini Pemicunya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 10 Feb 2022 16:47 WIB
Uang Tunai Rupiah
Ilustrasi Uang Rupiah (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar Rupiah pada 9 Februari 2022 menguat 0,17% secara point to point meski melemah 0,27% secara rata-rata dibandingkan dengan level Januari 2022.

Dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) tercatat Rp 14.344 per dolar AS menguat dibandingkan posisi tanggal 9 Februari sebesar Rp 14.366 per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan perkembangan nilai tukar Rupiah tersebut ditopang oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing dan pasokan valas domestik, persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, dan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar BI.


Dengan perkembangan ini, Rupiah sampai dengan 9 Februari 2022 mencatat depresiasi sekitar 0,73% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021.

"Ini sejalan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Filipina (0,71% ytd), India (0,65% ytd), dan Korea Selatan (0,62% ytd)," kata dia dalam konferensi pers, Kamis (10/2/2022).

Perry mengatakan, ke depan, nilai tukar Rupiah diprakirakan tetap terjaga didukung oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang tetap baik, di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang berlanjut.

Dia menyebut BI akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan fundamental ekonomi, melalui langkah-langkah mendorong efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar.

BI juga mencatat posisi cadangan devisa Indonesia akhir Januari 2022 tetap tinggi, yakni US$ 141,3 miliar, setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Kinerja NPI pada 2022 diprakirakan tetap terjaga dengan defisit transaksi berjalan yang diprakirakan tetap rendah dalam kisaran 1,1% - 1,9% dari PDB.

"Selain itu, neraca transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap surplus, terutama dalam bentuk penanaman modal asing (PMA), sejalan dengan semakin membaiknya iklim investasi di dalam negeri," jelas dia.

Simak juga Video: Jokowi: Inflasi Tetap 3%, Nilai Tukar Rp 14.350 per Dolar AS

[Gambas:Video 20detik]




(kil/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT