Rupiah Bergerak Tak Rasional
Senin, 15 Mei 2006 11:37 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali merosot mendekati level 9.000 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) pun didesak untuk segera masuk ke pasar guna menghindari keterpurukan rupiah.Pada sesi siang perdagangan Senin (15/5/2006), rupiah bertengger pada level 8.950 per dolar AS. Padahal pada akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah masih bertahan di level 8.735 per dolar AS.Analis valas Farial Anwar menilai, kemerosotan nilai tukar rupiah ini merupakan dampak dari merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menjelang penutupan sesi I, IHSG tercatat merosot hingga 60 poin (4 persen) ke level 1.465."Saya melihat ini berhubungan dengan profit taking saham. Karena kalau asing melakukan aksi jual di pasar saham, mereka selanjutnya akan membeli dolar," ujar Farial yang juga Direktur Currency Management Group (CMG) dalam perbincangannya dengan detikcom.Farial melihat, kondisi pasar saham Indonesia saat ini sudah tidak rasional lagi. "Bayangkan, kinerja emitennya tidak begitu bagus, tapi harga sahamnya bisa naik hingga berlipat-lipat," tegasnya.Dengan melihat aksi jual asing di pasar saham, Farial melihat nilai tukar rupiah bisa dengan mudah kembali ke level 9.000 per dolar AS."Untuk itu kita harapkan peran BI. Kemarin kan waktu menguat mereka menahan-nahan. Nah, sekarang setelah melemah, BI diharapkan juga bisa menahannya," tambahnya.Otoritas Bank Sentral diharapkan bisa menahan laju pelemahan rupiah sebelum sempat menembus level 9.000 per dolar AS. Farial khawatir, jika rupiah menembus level 9.000 per dolar AS, maka pergerakannya bisa semakin liar."Karena tipikal pasar kita itu cepat panik. Jadi harus dihindari adanya panic selling di pasar modal dan panic buying dolar," sarannya.
(qom/)











































