Rupiah Lebih Kuat di Tahun 2006, Rata-rata 9.000/US$

Rupiah Lebih Kuat di Tahun 2006, Rata-rata 9.000/US$

- detikFinance
Senin, 15 Mei 2006 12:11 WIB
Jakarta - Secara rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2006 diperkirakan lebih kuat dibandingkan tahun 2005, yakni mencapai Rp 9.000 per dolar AS. Pada tahun 2005, rata-rata nilai tukar rupiah adalah 9.705 per dolar AS.Hal tersebut disampaikan Menkeu Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (15/5/2006).Rapat kerja itu juga dihadiri oleh Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta dan sejumlah Dirjen Depkeu."Nilai tukar rupiah cenderung menguat dengan arus modal masuk yang cukup deras dengan volatilitas yang diupayakan terjaga. Secara fundamental, penguatan rupiah didukung oleh surplus neraca pembayaran, terkait terjadinya surplus, baik dari kinerja transaksi berjalan maupun neraca modal," urai Sri Mulyani.Sementara Burhanuddin memaparkan, nilai tukar rupiah dari Januari hingga April 2006 telah menguat secara signifikan, yakni rata-rata mencapai Rp 9.214 per dolar AS atau terapresiasi 6,28 persen dibandingkan akhir tahun 2005.Menurut Burhanuddin, apresiasi nilai tukar bersumber dari derasnya aliran modal masuk portofolio internasional jangka pendek ke pasar finansial domestik. Hal itu mengakibatkan penurunan permintaan valas sejalan dengan melambatnya kegiatan ekonomi domestik.Sri Mulyani menambahkan, seiring meningkatnya rupiah, laju inflasi diharapkan dapat dikendalikan pada tingkat yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan demikian sasaran inflasi sebesar 8 persen dalam tahun 2006 diprediksi bisa tercapai.Untuk neraca pembayaran, Sri Mulyani memperkirakan kinerjanya akan membaik pada tahun 2006. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya surplus transaksi berjalan dan neraca modal. Meningkatnya surplus transaksi berjalan bersumber dari peningkatan ekspor yang lebih tinggi dari impor dan meningkatnya penerimaan jasa-jasa tenaga kerja.Peningkatan ekspor didorong oleh meningkatnya ekspor migas dan nonmigas. Di sisi lain, lanjut Sri Mulyani, peningkatan impor terkait dengan meningkatnya impor nonmigas. Sedangkan impor migas sedikit mengalami penurunan.Dijelaskan, untuk surplus transaksi berjalan pada tahun 2006 diperkirakan mencapai 1,1 persen terhadap PDB atau lebih tinggi dari surplus transaksi berjalan dalam tahun 2005 yang mencapai 0,3 persen PDB.Dari sisi neraca modal, kata Sri Mulyani, investor asing masih memiliki kepercayaan berinvestasi di Indonesia. Salah satu faktor yang menarik investor adalah tercermin pada selisih antara suku bunga yang cukup besar.Sebagai akibat dari surplus transaksi berjalan dan neraca modal tersebut, posisi cadangan devisa akhir tahun 2006 diperkirakan mencapai US$ 41,8 miliar. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads