Bursa Saham Goncang, IHSG Tersapu 96 Poin
Senin, 15 Mei 2006 17:10 WIB
Jakarta - Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terlalu cepat akhirnya memukul balik pasar saham. Bagai terkena tsunami, lantai bursa tergoncang dan membuat panik investor yang makin menjadi-jadi.Pada penutupan Senin (15/5/2006), IHSG tersapu hingga 96,238 poin (6,307%) ke level 1.429,542. Penurunan ini merupakan yang terbesar dalam sejarah bursa saham Indonesia. Sebelumnya penurunan IHSG terbesar terjadi 8 Juni 1999, yang anjlok hingga 74 poin atau turun 12 persen, saat krisis ekonomi melanda.Kepanikan terjadi sejak sesi satu, ketika investor mulai cemas melihat penurunan rupiah. Hingga penutupan sore rupiah anjlok 437 poin ke posisi 9.165 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan hari ini hanya empat saham yang mengalami kenaikan harga. Sisanya hancur lebur atau stagnan.Indeks LQ-45 turun 23,541 poin pada level 316,522, Jakarta Islamic Index (JII) turun 17,457 poin pada level 257,863, Main Board Index (MBX) turun 27,586 poin pada level 395,250 dan Development Board Index (DBX) turun 14,186 poin pada level 269,530.Perdagangan di seluruh pasar berlangsung ramai dengan aksi jual saham, yang mencatat transaksi sebanyak 35.951 kali, pada volume 4,5 miliar unit saham, senilai Rp 3,952 triliun.Dari jumlah saham yang aktif ditransaksikan, hanya 4 saham yang mengalami kenaikan. Sisanya 163 saham turun dan 36 saham stagnan.Saham-saham yang anjlok harganya di top losser antara lain, Semen Gresik (SMGR) turun Rp 1.400 menjadi Rp 28.500, Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 1.250 menjadi Rp 12.200, Astra Internasional (ASII) turun Rp 800 menjadi Rp 10.850, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 500 menjadi Rp 3.400, Indosat (ISAT) turun Rp 450 menjadi Rp 5.150, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 375 menjadi Rp 4.025. Sedangkan empat saham yang naik di top gainer adalah, Selamat Sempurna (SMSM) naik Rp 15 menjadi Rp 310, Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI) naik Rp 5 menjadi Rp 170, Panca Global Securities (PEGE) naik Rp 5 menjadi Rp 140 dan Millenium Pharmacon International (SDPC) naik Rp 5 menjadi Rp 80. Menurut Edwin Sinaga, dari Kuo Capital Raharja, penurunan indeks yang tajam hari ini karena terjadi kepanikan yang berlebihan. Faktor pemicunya, selain jatuhnya bursa regional juga karena rupiah dan faktor teknikal akibat indeks yang sudah terlampau tinggi dalam waktu cepat.Sementara Dirut BEJ, Erry Firmansyah melihat penurunan yang terjadi masih normal dan lebih karena faktor teknikal."Yang turun bukan kita doang tapi bursa luar juga banyak yang turun," cetus Erry.Sedangkan pengamat pasar modal, Dandossi Matram menilai, kenaikan indeks tertinggi hingga menembus level 1.553,062 pada 11 Mei lalu, sudah terlalu kuat dan berlawanan dengan kondisi fundamental."Yang dibeli pasar adalah ekspektasi 2-3 tahun kedepan, sehingga harga sekarang sudah cukup mahal. Kondisi ini berbeda dengan tahun 1999-2000 dimana ekspektasi tidak ada, karena penuh gejolak," tutur Dandossi.Menurut Dandossi, penurunan indeks hari ini disebabkan oleh sentimen pasar yang bertemu dengan bubble yang kegedean, sehingga pasar terkoreksi. "Tapi hari ini cuma teknikal, indeks masih bisa naik tapi terbatas sampai Juni," katanya.Diakuinya, rupiah dan indeks saat ini sudah overhitted, akibatnya harga obligasi juga ikutan turun.
(ir/)











































