BI: Rupiah Melemah Gara-gara Inflasi AS Membengkak

BI: Rupiah Melemah Gara-gara Inflasi AS Membengkak

- detikFinance
Kamis, 18 Mei 2006 12:42 WIB
Denpasar - Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini kembali menembus level 9.200 per dolar AS. Dan kali ini biang kerok pelemahan nilai tukar rupiah adalah angka inflasi AS yang membengkak melebihi prediksi para analis. "Pada hari ini AS mengumumkan kinerja makro ekonominya, khususnya inflasi AS year on year diumumkan sebesar 3,5 persen, dan month to month 6,5 persen. Itu leih besar dari perkiraan semula yang mereka buat," jelas Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah. Menurut Burhanuddin yang ditemui di sela diskusi yang diadakan di Kantor Cabang BI Denpasar, Jalan Tjok Agung Tresna, Denpasar, Bali, Kamis (18/5/2006), angka inflasi itu memunculkan ekspektasi bahwa Bank Sentral AS (Fed) akan kembali menaikkan suku bunganya. "Kemungkinan target yang dipikirkan oleh AS bukan 5,25 persen, tetapi beberapa bulan ke depan akan menjadi 6 persen. Atau kemungkinan 6,5 persen. Ini akan mempersempit interest rate differential dengan rupiah. Karena itulah, maka rupiah kemudian melemah," jelas Burhanuddin. Fed dalam pertemuan terakhirnya memutuskan untuk menaikkan suku bunga AS sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Para ekonom sempat berspekulasi bahwa Fed akan menghentikan rangkaian kenaikan suku bunga yang sudah berlangsung sebanyak 16 kali. Namun Gubernur Fed Ben Bernanke menegaskan, apa yang akan diputuskan Fed tentang suku bunga akan tergantung pada data-data perekonomian AS yang terbaru.Lebih lanjut Burhanuddin menegaskan bahwa secara fundamental, kondisi dalam negeri Indonesia masih cukup baik dan tidak mempengaruhi nilai tukar rupiah. "Di dalam negeri, saya kira tidak ada faktor yang secara ekonomi yang dapat dipertimbangkan untuk mempengaruhi nilai tukar. Ini karena persoalan ekspektasi di luar," tambahnya.Khusus untuk terpuruknya rupiah pada Senin 15 Mei lalu, Burhanuddin menjelaskan bahwa saat itu faktor yang mempengaruhi adalah terjadinya aliran modal keluar di sejumlah negera emerging market seperti Turki, Brasil, Argentina dan Venezuela. "Dan dampaknya sampai ke kita," ujarnya. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads