Mitratel Cetak Laba Rp 1,38 T, Begini Prospeknya di 2022

ADVERTISEMENT

Mitratel Cetak Laba Rp 1,38 T, Begini Prospeknya di 2022

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 16 Mar 2022 16:18 WIB
Menara Telkomsel
Ilustrasi/Foto: Telkom
Jakarta -

PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) Tbk (MTEL) mengantongi laba bersih Rp 1,38 triliun pada 2021 atau naik 130%. Bagaimana prospeknya tahun ini?

Pada 2022, Mitratel dikabarkan akan mengakuisisi menara lagi. Mitratel tahun lalu mengakuisisi 8.139 menara Telkomsel dan 798 tower Telkom.

Hal ini membuat pendapatannya tumbuh. Pendapatan itu didapat Mitratel dari penyewaan kontrak menara dengan durasi sekitar 10 tahun.

"Jadi otomatis, dalam 10 tahun ke depan, MTEL mendapatkan pendapatan sebesar yang didapat tahun 2021. Nah, untuk menambah pendapatan dan laba bersih, MTEL cukup menambah sekitar 500-750 menara baru per tahun. Itu sudah sangat oke," kata Analis Samuel Sekuritas, Yosua Zisokhi, Rabu (16/3/2022).

Yosua menambahkan, konsolidasi yang dilakukan oleh Grup Telkom membuat Mitratel sangat kuat. "Kalau kita lihat ke depan dengan 5G yang masif, kebutuhan akan menara sangat tinggi," tutup Yosua.

Saham Mitratel dinilai memiliki potensi bagus untuk dikoleksi karena fundamental Mitratel sangat solid. Kinerja Mitratel sepanjang 2021 mengesankan dan bahkan di atas ekspektasi.

"Kalau saya lihat, secara fundamental cukup oke dan masih ada ruang bagi saham MTEL bergerak naik. Itu karena saham MTEL cukup murah di harga sekarang secara valuasi," ujar Yosua.

Tahun lalu, Mitratel memperoleh dana initial public offering (IPO) sebesar Rp 18,8 triliun. Dengan dana IPO sebesar itu, Yosua mengatakan, akan sangat mudah diolah oleh MTEL untuk memperoleh menara baru guna mendapatkan pundi-pundi revenue ke depan. "Menurut saya, ini membuat saham MTEL layak dikoleksi di harga sekarang," katanya.

Mitratel membukukan pertumbuhan pendapatan 2021 sebesar 11% menjadi Rp 6,87 triliun, jika dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp 6,18 triliun. Mitratel juga meningkatkan EBITDA pada 2021 mencapai Rp 5,18 triliun, meningkat 23,9% dibandingkan 2020 sebesar Rp 4,18 triliun.

(acd/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT