Suku Bunga Fed Naik Bikin Wall Street Bergairah, Dow Jones Menguat 500 Poin

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 17 Mar 2022 09:00 WIB
FILE - A Wall Street sign is seen next to surveillance equipment outside the New York Stock Exchange, Tuesday, Oct. 5, 2021, in New York.  Stocks are edging higher in early trading on Wall Street Tuesday, Oct. 12,  as traders wait for more data on inflation and corporate earnings this week.    (AP Photo/Mary Altaffer)
Foto: AP/Mary Altaffer
Jakarta -

Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (16/3). Hal itu karena investor yakin kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga diperlukan untuk melawan inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 518,76 poin atau 1,55% jadi 34.063.1, S&P 500 naik 95,41 poin atau 2,24% jadi 4.357,86, dan Nasdaq Composite bertambah 487,93 poin atau 3,77% jadi 13.436,55.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor konsumen nonprimer dan teknologi masing-masing terangkat 3,35% dan 3,32%. Sementara itu, sektor energi dan utilitas masing-masing turun 0,43% dan 0,17%.

Kepala Strategi Investasi di The Leuthold Group di Minneapolis, Jim Paulsen mengatakan kemungkinan investor lega mendengar The Fed akhirnya mengambil tindakan terhadap lonjakan inflasi.

"Mendengar The Fed akhirnya berkata dan bertindak untuk mengatasi inflasi agak menenangkan komunitas investasi," tuturnya dikutip dari Reuters, Kamis (17/3/2022).

The Fed melihat perang antara Rusia dan Ukraina menimbulkan ketidakpastian besar yang dihadapi ekonomi saat krisis COVID-19 masih berlangsung. Kenaikan suku bunga diperkirakan akan terus berlanjut untuk mengekang inflasi tertinggi yang pernah dirasakan negara itu dalam 40 tahun.

Di sisi lain, analis pasar lainnya khawatir kenaikan suku bunga agresif yang diproyeksikan dapat menyebabkan ekonomi tergelincir. Kepala Ekonom Amerika di Natixis New York, Joseph LaVorgna juga berpandangan serupa.

"Saya berharap semoga Jerome Powell (Ketua The Fed) dan rekan-rekannya mendapatkan yang terbaik karena mereka tidak akan mendekati apa yang mereka pikirkan, kecuali jika mereka bersedia mengeluarkan banyak orang dari pekerjaan, itulah yang akan terjadi. Kita akan mengalami resesi, ini adalah perkiraan resesi," bebernya.

(aid/dna)