Jejak GoTo di Grup Lippo Jelang IPO

Iffa Naila Safira - detikFinance
Senin, 21 Mar 2022 10:00 WIB
Top! GoTo Tunjukkan Kemajuan Teknologi Anak Bangsa di Dubai Expo 2020
Foto: Dok. Gojek
Jakarta -

GoTo Group telah menerbitkan prospektus ringkas dan melakukan public expose pada Selasa (15/3), dari situ diketahui bahwa perseroan akan melepas 52 miliar saham baru seri A atau mewakili 4,35% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh perusahaan.

Sebelumnya, Lippo Group siap bekerja sama dengan GoTo untuk memperkuat segmen bisnis online-to-offline (o2o) dan sudah melakukan exit dengan seluruh saham OVO dalam PT Bumi Cakrawala Perkasa (BCP) agar dapat bergabung ke dalam ekosistem GoTo Group, secara bertahap sejak 2018 lalu.

Lippo Group sendiri telah melakukan exit secara bertahap sejak 2018 lalu, di mana kepemilikan Lippo di OVO menjadi sangat minoritas (sekitar 6-7% saja) dan tidak lagi memegang kendali atas OVO.

Kemudian pada Oktober 2021, GoTo melakukan aksi korporasi dengan membeli kepemilikan saham di entitas bisnis Lippo Group yakni di PT Multipolar Tbk. (MLPL) dan PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA).

Perubahan struktur pemegang saham ini bisa terjadi setelah pengendali utama MLPL, PT Inti Anugerah Pratama melepas 4,8% sahamnya kepada GoTo.

Melalui MLPL, Lippo Group semakin terlihat kompak dengan GoTo dalam peningkatan modal (right issue) dengan mengambil saham baru yang akan diterbitkan pengelola gerai Hypermart, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA).

Melirik data dari keterbukaan informasi BEI, manajemen MPPA akan menggunakan dana hasil rights issue tersebut untuk berinvestasi pada strategi omnichannel.

Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady mengatakan bahwa kolaborasi ini menjadi kunci omnichannel, yaitu sebuah model bisnis dengan lintas channel yang mengutamakan pengalaman pelanggan.

"Lippo Group menerapkan strategi omnichannel yang memadukan layanan digital dengan jaringan usaha konvensional," katanya John dari keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (21/3/2022).

John juga mengungkapkan bahwa perkembangan digitalisasi dalam dunia bisnis ini tidak bisa berhadapan dengan praktik bisnis konvensional. Sebab, kekuatan bisnis digital harus didukung juga dengan keberadaan fungsi aset secara fisik.

Dalam konteks di Indonesia, bisnis konvensional dan digital tidak bisa dilakukan secara fragmentasi (terpisah) maupun parsial. Kemunculan perusahaan teknologi membutuhkan infrastruktur bisnis yang konvensional.

Strategi inilah yang melatari kerja sama MPPA dengan GoTo. Selain itu, MPPA sendiri yang sudah memiliki toko ritel di seluruh Indonesia, kini telah meluncurkan 31 toko virtual.

"Ini mengapa Alibaba membeli Department Store atau di sini Tokopedia dengan MPPA," tambahnya..

(dna/dna)