Waduh! Dolar AS Dalam Bahaya, Ini Alasannya

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 04 Apr 2022 09:23 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini masih berada di level Rp 14.100. Dolar AS sempat tersungkur dari level Rp 14.500an hingga ke Rp 14.119 pada Sabtu pekan lalu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Dolar Amerika Serikat (AS) disebut-sebut sedang berada dalam bahaya. Setelah hampir 80 tahun mendominasi dunia, dolar AS mungkin dapat kehilangan status sebagai mata uang cadangan global.

Sekitar 60% dari US$ 12,8 triliun cadangan mata uang global saat ini disimpan dalam dolar, memberikan banyak keuntungan bagi Negara Paman Sam. Demikian disadur detikcom dari CNN, Senin (4/4/2022).

AS bisa saja memotong akses dolar ke bank sentral di seluruh dunia. Mantan Gubernur Reserve Bank of India, Raghuram Rajan menyebut kekuatan itu sebagai senjata ekonomi pemusnah massal.

AS menggunakan senjata itu di Rusia pada bulan Februari setelah Rusia menginvasi Ukraina. AS membekukan cadangan devisa senilai US$ 630 miliar dan membuat nilai rubel babak belur. Itu memberi Amerika kemampuan untuk menghukum Rusia tanpa melibatkan pasukan AS dalam perang.

Namun, apa yang dilakukan oleh negara yang dipimpin Presiden Joe Biden itu bisa saja membuat negara lain menjadi ketakutan. Untuk melindungi diri dari nasib yang sama seperti Rusia, negara-negara lain mendiversifikasi investasi mereka dari dolar AS ke mata uang lain.

Di situlah status mata uang cadangan negara bisa mengalami masalah.

Mempersenjatai dolar, kata ahli strategi Bank of America Michael Hartnett, dapat menyebabkan penurunan nilai. Balkanisasi sistem keuangan global mengikis peran Amerika sebagai mata uang cadangan.

Sebuah makalah penelitian baru oleh Dana Moneter Internasional (IMF) menemukan bahwa dolar AS sebagai cadangan internasional telah menurun selama dua dekade terakhir, sekitar waktu yang sama Amerika Serikat memulai perang melawan teror dan sanksi kontra-terornya.

Seperempat dari cadangan telah bergeser dari dolar ke yuan China, dan tiga perempat lainnya telah pindah ke mata uang negara-negara yang lebih kecil.

Rusia dan China juga berharap untuk memandu evolusi sistem internasional.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis mengancam akan mengakhiri ekspor gas ke negara-negara yang tidak membuka rekening di bank Rusia dan membayar menggunakan rubel. Uni Eropa mendapatkan sekitar 40% gasnya dan 30% minyaknya dari Rusia tanpa alternatif yang mudah.

Sementara itu, Arab Saudi sedang dalam pembicaraan dengan Beijing untuk menerima yuan alih-alih dolar untuk penjualan minyak China.

Namun diperkirakan AS tidak akan semudah itu kehilangan hak istimewa berkat status dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia.

Untuk satu hal, alternatifnya tidak bagus. China telah mendorong yuan selama bertahun-tahun dan hanya sekitar 3% dari transaksi global dilakukan dalam mata uangnya, itu dibandingkan dengan 40% dengan dolar AS.

AS juga masih cukup menarik bagi seluruh dunia. Pasar ekuitas AS adalah pasar saham terbesar dan paling likuid di dunia, dan modal asing mengalir ke negara itu. Aliran investasi asing langsung global tumbuh sebesar 77% menjadi sekitar US$ 1,65 triliun pada tahun 2021, tetapi investasi di AS melonjak 114% menjadi US$ 323 miliar, menurut Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa.



Simak Video "Duh! Rupiah Makin Keok, Dolar AS Nyaris Rp 15.000"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/zlf)