Genjot Kinerja di Awal Tahun, Astra Raup Laba Rp 6,8 Triliun

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 27 Apr 2022 19:49 WIB
PT Astra International Tbk melakukan grand launching Menara Astra, Rabu (20/2/2019). Bangunan ini menjadi salah satu menara tertinggi di Jakarta.
Ilustrasi/Foto: Istimewa/Astra
Jakarta -

PT Astra International (Tbk) atau Grup Astra mencetak pertumbuhan pendapatan yang signifikan sepanjang kuartal I-2022. Alhasil, laba bersihnya pun melonjak hampir 2 kali lipat.

Emiten berkode ASII ini mencatatkan pendapatan bersih pada kuartal I-2022 sebesar Rp 71,87 triliun. Perolehan itu tumbuh 39% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 51,7 triliun.

"Grup membukukan kinerja yang baik pada kuartal pertama tahun 2022, didukung oleh pemulihan ekonomi domestik dan harga komoditas yang lebih tinggi," kata Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro dalam keterangan tertulis dikutip detikcom, Rabu (27/4/2022).

Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 83,91% dari Rp 3,72 triliun menjadi Rp 6,86 triliun pada kuartal I-2022. Hal itu terjadi berkat kinerja yang lebih baik dari semua bisnis grup, khususnya divisi alat berat dan pertambangan, otomotif, jasa keuangan, serta agribisnis.

Laba bersih divisi otomotif grup meningkat 56% menjadi Rp 2,2 triliun berkat penjualan mobil yang meningkat. Laba bersih jasa keuangan juga meningkat 50% menjadi Rp 1,5 triliun pada kuartal I-2022.

Pendapatan dari jasa dan sewa meningkat dari Rp 9,87 triliun menjadi Rp 11,96 triliun per 31 Maret 2022. Pendapatan jasa keuangan juga naik tipis menjadi Rp 6,14 triliun.

Seiring dengan kenaikan pendapatan tersebut, beban pokok pendapatan juga turut meningkat 36,57% menjadi Rp 56,13 triliun dari Rp 41,1 triliun pada periode 3 bulan tahun ini.

Perseroan juga berhasil mendapatkan keuntungan dari selisih kurs, serta peningkatan bagian dari hasil bersih ventura bersama dan entitas asosiasi.

Kas bersih (tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan grup), mencapai Rp 36,2 triliun pada 31 Maret 2022, dibandingkan Rp 30,7 triliun pada akhir 2021. Di sisi lain, utang bersih anak perusahaan jasa keuangan grup sedikit meningkat dari Rp 39,2 triliun pada akhir 2021 jadi Rp 39,3 triliun.

(aid/hns)