ADVERTISEMENT

Harga Batu Bara Bawa Berkah, Laba BUMI Melonjak di 2021

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 30 Apr 2022 11:46 WIB
Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (14/1/2022). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target produksi batu bara 2022 mencapai 663 juta ton yang diperuntukkan untuk konsumsi domestik/domestik market obligation (DMO)  sebesar 165,7 juta ton sedangkan sisanya 497,2 juta ton akan mengisi pasar ekspor. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/rwa.
Ilustrasi: lonjakan harga batu bara bawa berkah buat Bumi Resources/Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI:
Jakarta -

Capaian besar di tengah pandemi dan dampak perang Rusia vs Ukraina bagi PT Bumi Resources Tbk. Emiten berkode saham BUMI ini mencetak laba bersih konsolidasi sebesar US$ 488,6 juta.

Rinciannya, laba diatribusikan ke pemilik entitas induk US$ 168 juta, dan laba kepentingan non pengendali US$ 320,6 juta.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, capaian kinerja BUMI terkait erat dengan lonjakan harga batu bara. Harga batu bara di 2021 naik 52% year on year menjadi US$ 67.4/ton, dibandingkan harga batu bara 2020 yang hanya sebesar US$ 44.2/ton.

BUMI pun meraih pendapatan hingga US$ 5.419 juta pada 2021. Pada 2020 bumi hanya mencetak pendapatan sebesar US$ 3.680 juta.

Capaian tersebut ikut mendorong beban pendapatan BUMI naik, dari US$ 3.245 juta pada 2020, menjadi US$ 4.038,3 pada 2021.

Selain itu beban usaha juga naik jadi US$ 267,6 juta, dan membuat laba usaha BUMI naik jadi US$ 1.113 juta. Di sisi lain, beban pendapatan lain-lain turun jadi US$ 125,8 juta dari US$ 422,7 juta pada 2020. Alhasil, laba sebelum pajak menjadi US$ 987,2 juta.

Director & Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava mengatakan meski situasi pandemi menantang, curah hujan yang tinggi karena efek La Nina, dan harga energi
yang tinggi, perseroan mencatat pendapatan tertinggi dan pendapatan operasional lebih dari US$ 1 miliar. Ini terjadi lantaran harga komoditas global yang tinggi.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa dampak pandemi COVID-19 sangat bepengaruh pada kinerja sektor di tahun 2021, namun sinyal pemulihan di sektor batubara mulai terlihat dan berlanjut pada kuartal pertama tahun 2022. Dengan kembalinya optimisme sektor, dan tren kenaikan harga batubara, Perseroan berharap dapat meningkatkan kinerja yang signifikan di FY'2022," terang Dileep dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (30/4/2022).

Berlanjutnya fenomena La Nina sejak Q4 2021, diperkirakan hingga Mei 2022, juga akan berdampak. Selain itu, harga batu bara diperkirakan masih tinggi pada tahun ini dan berikutnya imbas dari situasi global saat ini.

"Konflik yang terjadi di Eropa Timur, dan kesulitan menghadirkan kemampuan energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar fosil, seperti batu bara, harga gas yang tidak terjangkau memperlebar kesenjangan pasokan vs meningkatnya permintaan batu bara," terang Dileep.

(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT