Anak Usaha Telkom Cuan Gede, Kantongi Laba Rp 459 Miliar

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 11 Mei 2022 11:05 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 16 poin menutup perdagangan terakhir sebelum libur panjang Lebaran. Transaksi dilantai bursa sudah mulai sepi karena investor sudah merasakan euforia libur panjang, Jumat (2/8/2013).
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel membukukan laba bersih sebesar Rp 459 miliar pada triwulan I/2022. Demikian disampaikan oleh Hendra Purnama, Corporate Secretary dan Direktur Investasi Mitratel dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (10/5).

"Laba bersih Mitratel melesat sekitar 34% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari periode yang sama tahun 2021 sebesar Rp. 343 miliar.Dengan demikian, marjin laba bersih juga meningkat, dari 22,3% pada Q1 triwulan I/2021 menjadi 24,6% pada Q1 triwulan I/2022," ungkap Hendra dalam keterangannya, Rabu (11/5/2022).

Menurut Hendra, pertumbuhan laba Perusahaan ditopang oleh meningkatnya pendapatan konsolidasi Mitratel sebanyak 21,5% yoy menjadi sebesar Rp 1,870 triliun per Maret 2022. Dengan demikian, pendapatan Mitratel tumbuh sebesar 21,5%, dari Rp1,540 triliun pada posisi Maret 2021.

Lebih rincinya, demikian Hendra sampaikan, pendapatan konsolidasi Mitratel pada periode itu ini berasal dari segmen Tower Owned sebesar Rp1,464 triliun, naik sebesar Rp282 miliar atau sekitar 24,4% yoy, dari periode sama tahun lalu sebesar Rp1,182 triliun.

"Pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan sewa menara dan juga peningkatan kolokasi yang berkelanjutan, termasuk dari asset hasil akuisisi menara Telkomsel dan Telkom pada Agustus 2021 lalu," katanya.

Selain itu, pendapatan Mitratel dari segmen Tower-Related Business juga melambung sebesar 34,1% atau naik sebanyak Rp59 miliar, dari Rp170 miliar menjadi Rp229 miliar. Peningkatan di segmen ini akibat kejelian Perusahaan dalam memilih peluang-peluang yang lebih menguntungkan. Karena Mitratel terus menangkap peluang terkait menara dengan marjin yang lebih tinggi.

Sedangkan pendapatan Perseroan di segmen Reseller turun 6% menjadi Rp176 miliar, dari sebelumnya Rp188 miliar. Ini dipicu oleh akuisisi tower reseller 798 menara dari Telkom pada Agustus 2021 yang memindahkan pendapatan reseller yang ada dari menara terkait ke pendapatan menara yang dimiliki.

Peningkatan kinerja Mitratel tergambar pada laba operasi yang meningkat sekitar 33% menjadi Rp814 miliar per Maret 2022, dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp612 miliar. Selanjutnya, EBITDA Mitratel juga bertumbuh sebesar Rp322 miliar atau 28,8% yoy , dari Rp1,120 triliun per Maret 2021 menjadi Rp1,442 triliun per Maret 2022. Ini diikuti oleh marjin EBITDA Perseroan sebesar 77.1% yang meningkat 4.4 basis poin dibandingkan tahun lalu menjadi 77,1%, dari sebelumnya 72,7%.

"Perkembangan atas EBITDA Mitratel tercermin pada peningkatan profitabilitas dengan efisiensi biaya pada kegiatan usaha," katanya.

Dari sisi neraca, Masih secara konsolidasi, hingga akhir Maret 2022, total aset Mitratel dicatatat mencapai Rp57,481 triliun, turun 0,4% dari periode sama tahun lalu Rp57,728 triliun. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh pembayaran lebih awal utang jangka panjang sebesar Rp3,5 miliar yang berdampak pada penurunan kas yang tersedia.

Demikian pula total liabilitas Perseroan pada akhir Maret 2022 turun 2,9% menjadi Rp23,374 triliun menurun sebanyak 2,9%, terutama karena pembayaran lebih awal utang jangka panjang yang lebih awal memanfaatkan kekuatan kas perseroan yang sangat baik guna memberikan nilai lebih bari para pemegang saham.

Sedangkan ekuitas Mitratel dibukukan bertumbuh sebanyak 1,4% menjadi Rp34,107 triliun terutama disebabkan oleh tambahan laba ditahan dari laba bersih selama triwulan I/2022.

Hendra juga mengatakan, peningkatan kinerja Mitratel selama triwulan I/2022, tidak terlepas dari portofolio Perseroan. Per Maret 2022, misalnya, Mitratel memiliki dan mengoperasikan 28.577 menara di Indonesia. Ini didorong oleh pembangunan 371 menara baru selama triwulan I/2022.

(fdl/fdl)