Nyaris Rp 15.000, Dolar AS Melambung 715 Poin Dalam 6 Bulan

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Senin, 20 Jun 2022 15:17 WIB
Ilustrasi Dolar AS
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus berlangsung dalam sepekan terakhir. Mengutip data RTI, Senin (20/6/2022), grafik pergerakan kurs dolar AS terhadap rupiah bergerak terus menanjak dalam sepekan terakhir di rentang Rp 14.642-14.904.

Lebih dahsyat lagi, kurs dolar AS sejak awal tahun terpantau bergerak cukup agresif. Dari awal tahun, dolar AS terpantau sudah naik 715 poin atau 4,07%. Dolar AS bergerak di rentang Rp 14.189-14.904.

Pada sore ini, dolar AS terpantau naik 56 poin atau 0,38% bertengger di level Rp 14.844. Sebelumnya dolar AS sempat bergerak menembus level Rp 14.904.

Meskipun menguat terhadap rupiah, dolar AS siang ini terpantau tertekan oleh mayoritas mata uang lainnya. Dolar AS praktis hanya menguat terhadap dolar Hong Kong, won Korsel, dan baht Thailand. Sedangkan dolar Australia, yuan China, dan euro menekan kurs dolar AS paling kuat sejauh ini.

Sementara rupiah takluk terhadap seluruh mata uang siang ini. Rupiah terpantau tertekan paling kuat oleh yuan China, dolar Australia, dan euro.

Keperkasaan dolar AS sendiri sudah diprediksi sejak pekan lalu. Dolar AS perkasa terhadap rupiah dikarenakan bank sentral AS atau The Fed menaikkan bunga acuan 0,75% menjadi 1,5-1,75%. The Fed menaikkan bunga acuan demi menekan inflasi yang melonjak di negara itu.

Inflasi yang tinggi disebabkan karena perang Rusia dan Ukraina yang sampai saat ini belum ada kepastian untuk berhenti.

Peluang dolar AS mencapai level Rp 15.000 juga terbuka tahun ini. Meski begitu, pelemahan nilai tukar disebut akan bergantung pada kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) menanggapi kenaikan suku bunga The Fed dan pengendalian inflasi pemerintah.

Menguatnya nilai tukar dolar AS dapat mempengaruhi ekonomi masyarakat Indonesia secara langsung. Dampaknya, inflasi mungkin akan terjadi dan menekan daya beli masyarakat.

Penguatan dolar AS akan berpotensi mengerek kenaikan biaya produksi pada industri manufaktur, apalagi yang masih banyak menggunakan barang impor. Hasilnya, harga produk di tengah masyarakat akan meningkat.

Simak Video: Duh! Rupiah Makin Keok, Dolar AS Nyaris Rp 15.000

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)