ADVERTISEMENT

Rubel Malah Perkasa Saat Dunia Murka Pada Putin, Kok Bisa?

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 30 Jun 2022 09:42 WIB
Bagaimana Sikap Uni Eropa atas Permintaan Pembayaran Gas Rusia dengan Rubel?
Foto: DW (News)
Jakarta -

Mata uang Rusia, Rubel menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Padahal negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin tengah dilanda berbagai sanksi dari banyak negara akibat invasi yang dilakukannya terhadap Ukraina.

Dikutip dari Reuters, Kamis (30/6/2022) Nilai Rubel kini RUB 50/US$, penguatan ini menjadi yang pertama kalinya sejak Mei 2015. Dengan penguatan itu, Rubel disebut sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di dunia tahun ini.

Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengatakan, kuatnya Rubel karena banyak intervensi yang dilakukan negara. Intervensi yang dimaksud di antaranya, masyarakat dibatasi untuk menarik tabungan dalam mata uang asing. Hal itu dilakukan melindungi sistem keuangan Rusia dari sanksi negara-negara barat.

Rubel naik hampir 44% tahun ini di Bursa Moskow. Wakil Perdana Menteri Andrei Belousov mengatakan bulan ini industri akan lebih nyaman jika Rubel bisa lebih menguat antara RUB 70 hingga RUB 80 terhadap dolar.

Tidak hanya terhadap dolar. Rubel juga menguat terhadap euro, rubel menguat 0,6% di RUB 54,20, setelah sebelumnya naik melampaui RUB 53 untuk pertama kalinya sejak April 2015 .

Penguatan Rubel juga menandakan Rusia tahan banting. Pasalnya, Rusia baru saja dinyatakan gagal bayar utang atau default Senin kemarin. Kegagalan ini menjadi pertama bagi negara yang dipimpin Putin gagal memenuhi kewajiban pembayaran obligasi.



Simak Video "Akan Bertemu Jokowi, Ini Agenda Presiden Rusia Vladimir Putin"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT