ADVERTISEMENT

Menerka Tujuan Investasi Telkomsel di GoTo

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 30 Jun 2022 11:09 WIB
Logo GoTo
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Investasi Telkomsel di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menuai polemik. Investasi dari salah satu anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk di GoTo disebut merugikan perusahaan.

Tudingan itu muncul setelah saham GOTO yang sudah tercatat di pasar modal sempat mengalami penurunan tajam. Meskipun saat ini nilainya kembali meroket. Namun pertanyaannya sebenarnya apa tujuan Telkomsel investasi di GoTo?

Menurut Assistant Professor Entrepreneurship and Technology Management Interest Group, SBM ITB, Dina Dellyana para raksasa telekomunikasi dunia telah berinvestasi di berbagai startup dalam menopang pertumbuhan bisnis ke depan. Hal ini dilakukan karena bisnis utama perusahaan telco mengalami pertumbuhan yang melambat, stagnan, bahkan negatif.

Stagnasi disebabkan oleh perang harga antara operator dan disrupsi yang berlangsung massif dari pelaku industri digital. Jadi, saat ini industri telekomunikasi global sedang mengalami masa sulit, dan masa depan akan semakin menantang.

Untuk menjaga pertumbuhan sekaligus menyelamatkan masa depan bisnis telekomunikasi maka salah satu caranya adalah mengembangkan ekosistem digital. "Dalam konteks ini, investasi telkomsel di GoTo adalah pilihan yang sangat tepat dan bernilai strategis," Dina di hadapan Panja Komisi VI DPR RI.

Menurut Dina investasi Telkomsel di GoTo terbilang tepat. Sebab kedua belah pihak memiliki expertise dan sumber daya yang saling melengkapi hingga mempercepat pertumbuhan keduanya.
"Investasi telkomsel di GoTo harus menjadi contoh bagi para BUMN lainnya untuk dapat memenangkan pasar dalam negeri dengan investasi pada startup dalam negeri. Jika Telkomsel tidak investasi di GOTO maka itu opportunity lost," katanya.

Anggota Panja Komisi VI dari PDIP, Evita Nursyanti, sependapat dengan Dina. Menurutnya, investasi Telkomsel di GOTO bersifat jangka panjang demi menciptakan berbagai kolaborasi dan strategi bisnis antara kedua pihak. Keputusan tersebut bukan hanya tepat, juga bernilai strategik. "Investasi ini justru harus didukung," katanya.

Untuk menjawab pertanyaan anggota Panja terkait investasi di perusahaan rugi, Kepala MNC Securities Edwin Sebayang menganalogikan investasi Philip Morris di PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) pada 2005. "Banyak yang meragukan keputusan Philip Morris saat itu. Tapi waktu menjawab, hanya dalam kurun 5 tahun, investasi mereka sudah balik modal. Sekarang Philip Morris sudah untung besar dari keputusannya saat itu," kata Edwin.

Selain dari capital gain dan dividen, Philip Morris juga menikmati added value dari akuisisi HMSP dalam bentuk sinergi bisnis sebagai pemain utama di industri rokok. "Jadi, dalam berinvestasi, jangan dinilai dari jangka pendek. Perlu diperhatikan juga potensi bisnis yang tercipta dan sinergi yang dicapai," kata Edwin.



Simak Video "Cerita Driver 001 Gojek Dapat Saham IPO GoTo"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT