ADVERTISEMENT

Poundsterling Babak Belur, Gara-gara Menteri Keuangan Inggris Mundur?

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 07 Jul 2022 09:54 WIB
Mata uang poundsterling / pounds
Poundsterling/Foto: Dok. REUTERS/Leonhard Foeger
Jakarta -

Nilai tukar poundsterling merosot melawan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang resesi di seluruh dunia karena harga energi terus melambung. Penurunan ini merupakan yang terendah selama dua tahun.

Analis mengatakan poundsterling yang diperdagangkan di bawah US$ 1,19 pada satu titik juga lemah karena pasar khawatir tentang pertumbuhan ekonomi Inggris di masa depan. Poundsterling diperkirakan bisa jatuh lebih dalam setelah prediksi stagnasi ekonomi dan inflasi naik.

Pengunduran diri dua menteri Inggris pada Selasa (5/7) malam, termasuk Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak disebut bukan merupakan faktor signifikan dalam penurunan nilai tukar poundsterling.

"Pasar jauh lebih peduli dengan pertumbuhan dan apa yang akan dilakukan pemerintah ini. Berita itu sendiri tidak menciptakan terlalu banyak kesengsaraan tambahan," kata Kepala Strategi Mata Uang Rabobank, Jane Foley dikutip dari BBC, Kamis (7/7/2022).

Pada Selasa (5/7), nilai tukar poundsterling terhadap dolar AS turun di bawah US$ 1,19 untuk pertama kalinya sejak Maret 2020, ketika lockdown di Inggris pertama kali dilakukan akibat pandemi COVID-19.

Meski begitu, poundsterling naik 0,5% terhadap euro. Poundsterling yang lemah mengakibatkan impor seperti makanan dan harga bensin menjadi lebih mahal.

Simak Video 'Menteri-menteri Inggris Mundur Berjemaah':

[Gambas:Video 20detik]



(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT