Memahami Laporan Keuangan Emiten Teknologi Seperti GoTo

ADVERTISEMENT

Memahami Laporan Keuangan Emiten Teknologi Seperti GoTo

tim detikcom - detikFinance
Rabu, 13 Jul 2022 11:35 WIB
Pekerja berjalan dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/4/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari Jumat (8/4) sore ditutup naik 83,46 poin atau 1,17 persen menembus level  7.210. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Bagi perusahaan publik, akuntabilitas itu sangat sakral. Sekali melanggarnya, akan menjadi aib sepanjang masa dan menjadi kesalahan yang tak termaafkan. Reputasi di mata investor pun bisa hancur berantakan. Maka itu, perusahaan publik yang kredibel tidak akan bermain main dengan angka.

Pencatatan akuntansi harus dilakukan berdasarkan Standar Akuntansi yang Berlaku Umum oleh Akuntan Manajemen dan selalu melalui proses audit kredibel oleh Akuntan Publik yang sifatnya independen sebelum dipublikasikan.

Dengan konteks seperti inilah, ketika muncul tuduhan miring terkait pencatatan investasi Telkomsel di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) senilai Rp 600 miliar, pelaku pasar tidak langsung percaya.

Kesalahannya terlalu fundamental dan tidak mungkin terjadi di emiten sekelas GOTO dan Telkom, induk dari Telkomsel. Market melihat selisih itu hanya karena soal pencatatan akuntansi.

"Paparan tersebut tidak tepat secara akuntansi, mudah-mudahan tidak menjadi fitnah ataupun sekedar tuduhan tendensius," kata CEO SW Indonesia, Michell Suharli, pada diskusi publik Isu Investasi Telkomsel, Fakta atau Fitnah yang diselenggarakan MNC Trijaya Network, Selasa (12/7/2022) kemarin.

Isu ini ramai dari pesan berantai di grup WA yang menuduh GOTO menyulap pencatatan investasi Telkomsel senilai Rp 2,1 triliun.

Si penyebar informasi merasa heran mengapa di laporan keuangan GOTO, investasi Telkomsel senilai Rp2,1 triliun hanya dibukukan senilai Rp1,47 triliun.

Sisa senilai Rp 600 miliar hilang kemana? disembunyikan di mana? dan aneka stereotype lainnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT