'Kemenyan' Kurang Ampuh, Indosiar Rugi Rp 148,421 Miliar
Selasa, 27 Jun 2006 16:42 WIB
Jakarta - Meski sudah banyak 'membakar kemenyan' alias menayangkan sinetron mistis, Indosiar masih belum berhasil mendongkrak pendapatan dan laba bersihnya.Sepanjang tahun 2005, perseroan malah mencetak rugi bersih sebesar Rp 148,421 miliar, dibanding tahun sebelumnya yang mencatat laba sebesar Rp 126,127 miliar.Kerugian yang diderita Indosiar itu terutama disebabkan karena minimnya rating dari acara-acara yang ditayangkan Indosiar."Menyan sama kembangnya sekarang sih sudah komplet. Tapi memang kita tidak taruh banyak-banyak. Kalau kita taruh banyak-banyak, kita juga yang takut nantinya," kata Dirut PT Indosiar Karya Media Tbk Handoko usai RUPS Tahunan di kantornya, Jalan Daan Mogot, Jakarta, Selasa (27/6/2006).Sebelumnya, Handoko memprediksi pendapatan dan laba bersih tahun 2005 akan minim karena Indosiar terlambat menayangkan tayangan-tayangan mistis.Handoko menambahkan, perseroan memfokuskan pada sinetron-sinetron lokal untuk mendongkrak kembali penjualannya pada tahun ini. Sinetron unggulan tersebut rencananya akan ditayangkan menjelang dan selama bulan puasa tahun ini.Untuk mendongkrak rating, perseroan juga tengah membangun tower untuk memperbaiki kualitas gambar siaran Indosiar di Jakarta.Menurut Direktur Keuangan Perseroan, Phiong Phillipus Darma, pembangunan menara tersebut sangat penting karena porsi rating di Jakarta yang besar yakni mencapai 56 persen dari porsi rating nasional."Jadi kalau kita mau menang, kita harus menang di Jakarta. Tapi selama ini gimana kita mau menang, karena kualitas gambarnya saja tidak sekelas dengan tivi-tivi lain," cetusnya.Indosiar juga ini menganggarkan belanja modal untuk pembangunan menara sebesar US$ 15 juta dan biaya perawatan sebesar Rp 50 miliar pada tahun 2006. Pendanaan untuk menara tersebut berasal dari BCA sebesar Rp 100 miliar, sementara untuk perawatan dari internal. Pembangunan menara ini diharapkan selsai pada kuartal III tahun 2006."Pembangunannya sempat terhambat karena perizinannya makin ketat. Ini terkait robohnya menara TV7," tandas Phiong.Perseroan pada tahun 2006 menargetkan pendapatan bersih menjadi Rp 850-900 miliar dibanding tahun 2005 yang hanya Rp 817,5 miliar."Untuk laba bersih mungkin sudah positif. Cuma masih sangat berat untuk naik signifikan," tegas Handoko.
(qom/)











































