Bunga Fed Naik, Dolar Melorot

Bunga Fed Naik, Dolar Melorot

- detikFinance
Jumat, 30 Jun 2006 09:30 WIB
Washington - Dolar AS langsung melorot posisinya terhadap mayoritas mata uang menyusul keputusan Bank Sentral AS (Federal Resever/Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan memberi sinyal akan segera menghentikan rangkaian kenaikan suku bunga.Tercatat mata uang tunggal Eropa, euro pada akhir perdagangan Kamis (29/6/2006) di New York menguat ke level 1,2656 dolar dibandingkan sebelumnya di level 1,2555. Dolar juga melemah terhadap yen ke level 115,14 dolar, dibandingkan sebelumnya 116,44 dolar. Sementara nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Jumat (30/6/2006) menguat ke level 9.300/9.310 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.366 per dolar AS.Federal Open Market Committee (FOMC) dalam pertemuan selama dua hari yang berlangsung di Washington memutuskan untuk menaikkan kembali suku bunga AS sebesar 25 basis poin untuk ke-17 kalinya menjadi 5,25 persen. Sebelum rangkaian kenaikan suku bunga yang sudah berlangsung selama dua tahun, suku bunga benchmark AS berada di level 1 persen, terendah dalam 45 tahun terakhir.Namun Fed tetap menggarisbawahi bahaya tekanan inflasi yang masih akan menjadi ancaman di tengah perekonomian AS yang sudah mulai menggeliat. "Indikator-indikator ekonomi terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi cukup moderat dari tingkat yang cukup kuat pada awal tahun ini," demikian pernyataan FOMC."Meski pertumbuhan permintaan agregat yang moderat diharapkan bisa membatasi tekanan inflasi dalam kurun waktu tertentu, namun komite tetap menilai bahwa beberapa risiko inflasi masih tetap ada," tegas FOMC.Sejumlah analis cukup kebingungan dengan pernyataan FOMC. "Fed telah memberikan ketidakpastian dengan membiarkan pintu terbuka untuk lanjutan kenaikan suku bunga pada Agustus dan dengan alasan pokok pada waktu yang bersamaan, penghentian rangkaian kenaikan suku bunga dapat terjadi. Itu memberi efek bearish pada dolar," ujar analis valas David Gilmore seperti dilansir dari AFP. Analis lain dari BMO Capital Markets juga mengatakan bahwa dolar bisa semakin menderita akibat lebarnya gap dengan suku bunga negara lain. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads