ADVERTISEMENT

Pasar Saham China 'Babak Belur' Dihantam 3 Peristiwa Ini

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Kamis, 01 Sep 2022 12:32 WIB
Imbas Virus Corona yang merebak dan menelan ratusan korban jiwa kini mulai menggoyang ekonomi China dan beberapa negara di Asia seperti Jepang. Pasar saham China pun ambruk sejak pembukaan perdagangan.
Ilustrasi/Foto: AP Photo
Jakarta -

Tiga sentimen besar membuat pasar saham China anjlok pada Rabu kemarin. Penyebabnya mulai dari kekhawatiran investor global akan dampak pidato ketua The Fed Jerome Powell di Jackson Hole pekan lalu hingga sebaran kasus Covid-19 yang kembali mengkhawatirkan di China.

Sentimen pertama datang dari data resmi baru dari China yang menunjukkan aktivitas pabrik terus berkontraksi di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu menyusul lockdown COVID-19 dan rekor gelombang panas.

Shanghai Composite Index (SHCOMP) China Daratan terpantau turun 0,8%, ditutup pada level terendah dalam empat minggu terakhir. Asal tahu saja, sepanjang tahun ini indeks telah anjlok hampir 12%.

Indeks Komponen Shenzhen juga turun 1,3% ke level terburuknya dalam lebih dari dua bulan. Nikkei 225 (N225) turun 0,4%, dan Indeks Hang Seng (HSI) Hong Kong datar. Tapi Kospi Korea (KOSPI) ditutup naik 0,9%.

Kemudian, anjloknya pasar saham China datang ketika negara itu memerangi gelombang intensif wabah Covid-19. Menurut perhitungan CNN, berdasarkan data dari Komisi Kesehatan Nasional, semua provinsi di China daratan telah mengidentifikasi kasus Covid-19 yang ditularkan secara lokal dalam 10 hari terakhir.

Penyebaran kasus yang cepat telah memicu kekhawatiran tentang lebih banyak lockdown wilayah. Awal tahun ini, China menempatkan Shanghai dan kota-kota utama lainnya di bawah penguncian ketat selama berbulan-bulan. Ini mereduksi aktivitas konsumen dan mengganggu rantai pasokan global.

Yang tak kalah menakutkan bagi investor adalah berita bahwa industri manufaktur besar-besaran China terus menyusut pada Agustus di tengah gelombang panas terburuk negara itu dalam enam dekade.

"Aktivitas ekonomi tetap lemah pada Agustus, sebagian karena kekurangan listrik yang disebabkan oleh gelombang panas," kata Zhiwei Zhang, presiden dan kepala ekonom di Pinpoint Asset Management.

Gelombang panas dan kekeringan telah melanda China selatan dalam sebulan terakhir, menyebabkan pemadaman listrik di jantung industri dan mengganggu operasi pabrik untuk beberapa bisnis internasional, seperti Tesla (TSLA) dan Toyota. Memang suplai listrik sudah mulai kembali pulih, tapi adanya penguncian lantaran kasus Covid-19 kembali menjadi sentimen negatif.

"Untuk saat ini, gangguan yang dihasilkan tampak sederhana tetapi ancaman penguncian yang merusak semakin meningkat," kata Zhang.

Tonton juga Video: Tutorial Anti FOMO di Pasar Modal

[Gambas:Video 20detik]



(eds/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT