Bing Tobing Lengser Dari INCO

Bing Tobing Lengser Dari INCO

- detikFinance
Rabu, 05 Jul 2006 17:58 WIB
Jakarta - Presdir PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) Bing R Tobing lengser dari jabatannya, saat perusahaan sedang menjadi sorotan karena induk usahanya di Kanada Inco Limited diakuisisi oleh Phelps Dodge Corporation, produsen tembaga terbesar ketiga dunia.Bing Tobing digantikan oleh Arif S Siregar, yang sebelumnya menjabat Presdir PT Kelian Equatorial Mining (KEM), perusahaan dari Rio Tinto Group.Pengunduran diri Tobing disetujui pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Rabu (5/7/2006).Tobing mengundurkan diri bersama dengan Direktur INCO Michel Sylvestre dan Komisaris Atmono Suryo. Sedangkan anggota Komisaris Susumo Makino digantikan oleh Nobumasa Kemori, yang sebelumnya Direktur Sumitomo Metal Mining Co Ltd .Sementara posisi Michel Sylvestre digantikan oleh Dirk Theuninck yang sebelumnya menjabat Operation Executive Refineries di Impala Platinum Holding (Implat), salah satu produsen platinum terbesar dunia.Komisaris Utama INCO, Peter C Jones menjelaskan, pada tahun ini INCO menargetkan produksi nikelnya sebanyak 159-160 juta pon dalam matte. Target ini lebih rendah dari proyeksi semula 167 juta pon dalam matte, karena ada kebakaran satu tanur listrik di Sorowako.Mengenai pengambilalihan saham Inco Limted dan Falconbridge Ltd yang keduanya memiliki 60,8 persen saham INCO oleh Phelps Dodge Corporation, menurut Direktur External Communication INCO Sri Kuncoro, pihaknya akan segera menjelaskan hal tersebut dalam waktu dekat."Ya nanti kita adakan acara khusus untuk menjelaskan ini, supaya kalau jawab tidak separoh separoh nanti salah pengertian," kata Sri.Menurut Sri pengambilalihan tersebut memang dalam bentuk akuisisi, hanya saja dalam bahasa hukum Kanada disebut amalgamation yang artinya penggabungan. Pada 26 Juni 2006, Phelps Dodge Corporation sepakat membeli saham Inco Limited dan Falconbridge senilai US$ 35,4 miliar yang merupakan pengambilalihan terbesar saham pertambangan.Otoritas BEJ juga sempat menghentikan sementara perdagangan (suspensi) saham INCO pada 28 Juni 2006. Namun suspensi tersebut telah dicabut lagi pada 30 Juni karena manajemen INCO telah menjelaskan tidak ada perubahan pemegang saham mayoritas.Penggabungan tiga perusahaan yang terbentuk atas proses ini, secara hukum menjadi penerus dari perusahaan-perusahaan yang digabungkan. Akuisisi tersebut kini dipertanyakan oleh DIA Holdings Overseas BV, pemilik saham minoritas terbesar 2,5 persen di INCO.Kuasa Hukum DIA Holdings Overseas BV, Maqdir, Pieter dan Ishak dalam pengumuman satu halaman di Koran Bisnis Indonesia mengatakan, seharusnya ada penawaran tender yang dilakukan kepada semua pemegang saham INCO.DIA Holdings Overseas BV juga mengajak seluruh pemegang saham minoritas INCO terhadap perlunya dilakukan penawaran tender karena aksi korporasi itu dalam bentuk pengambilalihan saham. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads