BI: Rupiah akan Stabil di Level 9.200/US$
Jumat, 14 Jul 2006 14:43 WIB
Jakarta - Gara-gara harga minyak dunia melambung, nilai tukar rupiah kembali terpental. Namun Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan tetap stabil pada level 9.200 per dolar AS."Hemat saya rupiah akan stabil disini, sekarang 9.200 (per dolar AS), ya di sekitar situ-situ saja," ujar Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (14/7/2006).Indonesia tidak sendiri dalam menerima dampak lonjakan harga minyak dunia ini. Aslim menyebutkan, sejumlah negara yang impor minyaknya besar dan bukan produsen seperti Korea dan Jepang terkena dampak yang lebih besar. "Dan itu akan berdampak pada mata uang negara-negara itu," ujar Aslim.Khusus untuk Indonesia, jelas Aslim, dampak lonjakan harga minyak sebenarnya tidak terlalu besar. Dari sisi oil current account memang defisit, namun dari gas, surplusnya jauh lebih besar."Jadi naiknya harga minyak secara on netto basis neraca perdagangan miga itu positif dampaknya," jelasnya.Sementara Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono mengatakan, pelemahan mata uang regional merupakan reaksi normal atas lonjakan harga minyak. "Saya melihat tadi rupiah sudah kembali menguat. Jadi biasalah reaksi seperti itu," tambahnya.Yang pasti, tagas Hartadi, BI dalam posisi siap untuk melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
(qom/)











































