Dolar AS Makin Menggila, Wamenkeu Ungkap Penyebabnya

ADVERTISEMENT

Dolar AS Makin Menggila, Wamenkeu Ungkap Penyebabnya

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 04 Nov 2022 14:42 WIB
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara meminta perluasan manfaat bendungan Raknamo dikebut sebagai salah satu Proyek Strategis nasional (PSN).
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta -

Kurs dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami penguatan. Hari ini bahkan dolar AS terpantau kembali tembus Rp 15.700 terhadap rupiah.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, menguatnya dolar AS tak lepas dari kebijakan yang diambil Federal Reserve atau The Fed yang menaikkan suku bunga. Terbaru, The Fed menaikkan suku bunga ke kisaran target 3,75%-4%.'

"Kalau Amerika masih naikin suku bunga, pasti dolarnya balik pulang ke Amerika. Dolarnya balik ke Amerika harga dolarnya pasti tambah kuat," kata Suahasil di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (4/11/2022).

Dengan suku bunga yang naik maka lebih banyak masyarakat tertarik menyimpan uang di perbankan. Dolar yang beredar di seluruh dunia, termasuk negara berkembang akan kembali ke AS.

"Dolar AS di seluruh dunia pengin balik ke Amerika supaya dapat bunga yang tinggi itu. Jadi bergeraklah seluruh dolar dari emerging market pergi pulang kampung," jelasnya.

Hal ini direspon oleh negara-negara lain yang turut menaikkan suku bunga. Tujuannya supaya selisih suku bunga negaranya dengan di AS tidak berbeda jauh.

Langkah agresif The Fed bisa juga mempengaruhi para investor. Selain itu pergerakan ekonomi pun berpotensi akan melambat.

"Kalau di tiap negara suku bunga dinaikkan, gerak ekonomi akan ada perlambatan. Karena cost of fund meningkat. Yang tadinya udah siap investasi jadi mikir, ini suku bunga lagi naik," imbuhnya.

Berdasarkan data Bloomberg per 2 November 2022, AS berada di posisi ke- 10 sebagai negara dengan suku bunga acuan tertinggi. Sementara Indonesia berada di posisi ke-8.

Argentina 75%
Brazil 13,75%
Turki 10,50%
Meksiko 9,25%
Rusia 7,50%
Afrika Selatan 6,25%
Vietnam 6%
India 5,90%
Indonesia 4,75%
Filipina 4,25%
Amerika Serikat 4%

(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT