IHSG Dibuka Menguat Tipis-tipis di Awal Pekan

ADVERTISEMENT

IHSG Dibuka Menguat Tipis-tipis di Awal Pekan

tim detikcom - detikFinance
Senin, 14 Nov 2022 09:32 WIB
Pekerja berjalan dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (8/4/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari Jumat (8/4) sore ditutup naik 83,46 poin atau 1,17 persen menembus level  7.210. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini dibuka menguat ke 7.096,68. IHSG bergerak hijau setelah naik 7,48 poin atau 0,qq% tepat pada pembukaan perdagangan saham hari ini.

Dikutip dari data RTI, Senin (14/11/2022), penguatan IHSG diikuti oleh penguatan indeks LQ45 yang menanjak 1,3 poin (0,11%) ke 1.014,24.

Pada perdagangan akir pekan kemarin (11 November 2022) IHSG ditutup menguat sebesar +1,76% atau +122,3 poin di level 7.089,21.

Financial Expert Ajaib Sekuritas, RatihMustikoningsih mengungkap, ada sejumlah sentimen yang turut mewarnai laju pergerakan saham hari ini.

Berdasarkan survei pemantauan harga Bank Indonesia (BI) pada periode minggu kedua November 2022, perkembangan inflasi diperkirakan sebesar 0,11% secara bulanan. Sementara itu, Kementerian Keuangan optimis anggaran belanja APBN tahun anggaran 2022 yang masih tersisa Rp 1.200 triliun dapat terserap hingga akhir tahun 2022.

Sebagian sisa anggaran belanja tersebut akan digunakan untuk membayar subsidi dan kompensasi energi. Realisasi belanja negara telah mencapai Rp2.376 triliun per akhir 31 Oktober 2022 atau mencapai sebesar 76,49% dari target sebesar Rp3.106,4 triliun.

Dari mancanegara, Biro Statistik Inggris mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) pada Kuartal III-2022 mengalami kontraksi 0,2% QoQ, turun dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat tumbuh 0,2% QoQ. Secara periode tahunan, tercatat PDB Inggris masih tumbuh 2,4% YoY namun jauh lebih rendah dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 4,4% YoY.

Pertumbuhan ekonomi Inggris diproyeksikan akan terus turun dan berlanjut pada tahun 2023 akibat tingginya harga energi dan pengetatan kebijakan moneter yang membebani konsumsi rumah tangga. Harga bahan makanan di Inggris melesat hingga 14,7% dan merupakan capaian tertinggi sejak 2008, seiring dengan melonjaknya tingkat inflasi.



(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT