Lumayan Bergairah, IHSG Dibuka Menanjak 14 Poin

ADVERTISEMENT

Lumayan Bergairah, IHSG Dibuka Menanjak 14 Poin

tim detikcom - detikFinance
Selasa, 15 Nov 2022 09:14 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada penutupan perdagangan di BEI Jumat (19/11). IHSG berada pada level 6.720,26.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini dibuka menguat ke 7.034,11. IHSG bergerak hijau setelah naik 14,71 poin atau 0,21% tepat pada pembukaan perdagangan saham hari ini.

Dikutip dari data RTI, Selasa (15/11/2022), penguatan IHSG diikuti oleh penguatan indeks LQ45 yang menanjak 2,88 poin (0,29%) ke 1.003,9.

Pada perdagangan kemarin (14 November 2022) IHSG ditutup melemah sebesar -0,98% atau -69,81 poin di level 7.019,39.

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengungkap, ada sejumlah sentimen yang turut mewarnai laju pergerakan saham hari ini.

Pada KTT G20 Bali, Amerika Serikat (AS) menyatakan komitmen bersama investasi di kisaran US$700 juta (Rp 10,1 triliun) untuk mengatasi krisis iklim, mendorong akses pangan dan energi yang terjangkau, serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi pandemi dan arsitektur kesehatan global.

Sementara itu, Pemerintah masih mempertimbangkan rencana menerbitkan surat utang global (Global Bond) pada sisa akhir tahun ini. Satu di antaranya sudah diterbitkan pada awal September lalu dengan nilai US$ 2,65 miliar.

Dari mancanegara, imbal hasil (Yield) surat utang Pemerintah AS bertenor 2 tahun merosot 33 bps pada akhir minggu lalu, dan menekan nilai tukar mata uang US$ yang melemah 4%. Level tersebut merupakan penurunan terbesar dalam 50 tahun terakhir.

Hal ini terdorong dari rilisnya data inflasi AS pada Oktober yang lebih rendah dari estimasi dan lebih rendah dari periode sebelumnya. Sementara itu, volatilitas yang terjadi pada pasar komoditas untuk minyak sawit masih cukup tinggi.

Harga minyak sawit mentah Malaysia sempat mencapai rekor tertinggi 7.268 ringgit (US$1.586,21) per ton pada bulan Maret lalu, namun dari harga tersebut telah merosot sekitar 40%. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya gangguan pasokan akibat badai tropis juga diperkirakan akan berlanjut hingga Kuartal I-2023.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT