ADVERTISEMENT

IHSG Dibuka Susut Tipis, Bisa Menguat Nggak Ya?

Dana Aditiasari - detikFinance
Rabu, 16 Nov 2022 09:15 WIB
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan laju positif. IHSG ditutup cetak rekor meski kemarin ada insiden di Gedung BEI.
Foto: detikcom
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini dibuka melemah tipis ke 7.030,57. IHSG bergerak negatif setelah susut 4,93 poin atau 0,07% tepat pada pembukaan perdagangan saham hari ini.

Dikutip dari data RTI, Rabu (16/11/2022), pelemahan IHSG diikuti oleh pelemahan indeks LQ45 yang menurun 1,36 poin (0,14%) ke 1.003.

Pada perdagangan kemarin (15 November 2022) IHSG ditutup menguat sebesar +0,23% atau +16,10 poin di level 7.035,50.

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengungkap, ada sejumlah sentimen yang turut mewarnai laju pergerakan saham hari ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus Neraca Perdagangan Indonesia pada Oktober 2022 sebesar US$5,67 miliar. Perolehan tersebut lebih besar dari bulan sebelumnya sebesar US$4,99 miliar. Secara kumulatif Januari - Oktober 2022 surplus Neraca Perdagangan sebesar US$45,52 miliar, meningkat 47,32% YoY.

Kinerja ekspor sepanjang Januari - Oktober 2022 mencapai US$244,14 miliar atau meningkat 30,97% YoY dan kinerja impor mencapai US$198,62 miliar atau naik 27,72% YoY. Surplus Neraca Perdagangan dalam negeri ditopang dari neraca komoditas non-migas.

Dari mancanegara, Retail Sales China periode Oktober 2022 tercatat mengalami penurunan -0,5% YoY setelah pada bulan sebelumnya masih tercatat tumbuh 2,5% YoY pada September 2022. Hal tersebut menggambarkan konsumsi yang masih melemah akibat dampak dari kenaikan kasus COVID-19 dan kebijakan Zero COVID.

Industrial Production China pada Oktober 2022 tercatat tumbuh 5,0% YoY namun di bawah capaian bulan sebelumnya dan di bawah estimasi. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jepang pada Kuartal III-2022 mengalami kontraksi -1,2% YoY, merupakan level kontraksi pertama kali dalam setahun terakhir dan merefleksikan lemahnya indikator belanja konsumen di tengah inflasi yang tinggi dan akibat depresiasi nilai tukar mata uang JPY terhadap US$.

Simak juga Video: Jokowi Ceritakan Kondisi Pandemi Covid-19 dari Mengerikan-Melandai

[Gambas:Video 20detik]




(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT