Mau Bangun Pabrik Baru buat Geber Produksi, IPO PKT Maksimal Semester I -2023

ADVERTISEMENT

Mau Bangun Pabrik Baru buat Geber Produksi, IPO PKT Maksimal Semester I -2023

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 08 Des 2022 11:26 WIB
Pupuk Kaltim
Foto: Pupuk Kaltim
Jakarta -

Jakarta Rencana sejumlah BUMN dan anak usah BUMN untuk melepas sebagian sahamnya di bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Intial Public Offering (IPO) semakin menunjukkan titik terang.

Wakil Menteri BUMN Pahala N Mansury dalam rapat kerja dengan komisi VI DPR menyampaikan, sejumlah BUMN dan anak usaha BUMN yang akan IPO tahun 2023 adalah PT Pertamina Hulu Energi (PHE), PT Pertamina Geothermal Energy, Palm.Co serta PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).

"Untuk PHE sudah mendaftarkan rencana IPO-nya ke OJK pada Desember 2022 ini. Yang lain seperti Palm Co dan PKT maksimal akan mengajukan pendaftaran ke OJK pada kuartal I-2023. Targetnya di semester I-2023 seluruh proses IPO ini sudah selesai," jelas Pahala Mansury pada rapat kerja yang berlangsung di di Gedung Nusantara I DPR, Jakarta, Rabu (7/12/2022).

Lebih jauh Pahala menjelaskan, melalui IPO ini perusahaan-perusahaan BUMN tersebut dapat mendukung upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan energi dan pangan. Ia mencontohkan rencana IPO PKT. Menurutnya, melalui IPO ini PKT diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksinya, sehingga ketersediaan pupuk bagi terciptanya ketahanan pangan dapat terwujud.

"PKT adalah perusahaan pupuk urea terbesar di ASEAN. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 6,5 juta ton dan menjadi salah satu kontributor terbesar PT Pupuk Indonesia yang kini punya kapasitas produksi 21,1 juta ton per tahun," jelas Pahala.

IPO PKT ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi pupuk nasional. Dana hasil IPO rencananya akan digunakan oleh perusahaan yang berdomisili di Bontang, Kalimantan Timur itu untuk membiayai pembangunan pabrik urea dengan kapasitas produksi 1,15 juta ton dan methanol sebesar 1 juta ton per tahun. Pabrik yang akan berlokasi di wilayah Papua Barat itu diperkirakan butuh biaya investasi sebesar US$ 2 miliar.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT