ARB Berjilid-jilid Saham GOTO Sudah di Bawah Cepek, Bisa Sampai Gocap?

ADVERTISEMENT

ARB Berjilid-jilid Saham GOTO Sudah di Bawah Cepek, Bisa Sampai Gocap?

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 09 Des 2022 14:19 WIB
Podcast: Menakar Cuan Saham GoTo
Foto: Tim Infografis/Fauzan Kamil
Jakarta -

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) lagi-lagi mengalami penurunan paling bawah dalam sehari atau auto reject bawah (ARB). Pagi ini saham perusahaan tersebut sudah menurun di bawah Rp 100 yakni Rp 93.

Menurut Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis saham GOTO masih ada potensi terjadi penurunan. Mengingat saat ini psikologis pasar ke sektor teknologi sedang tidak bagus.

"Penurunan ini bisa berakhir jika memang sudah adanya positive katalis bagi sektor teknologi atau kinerja yang berbalik positif untuk GOTO," katanya kepada detikcom, Jumat (9/12/2022).

Azis juga memproyeksi potensi penurunan saham GOTO ke level Rp 50 juga cukup besar. Apa lagi saat ini masih ada aksi jual saham yang terjadi.

"Potensi penurunan hingga Rp 50 memungkinkan ada mengingat masih besarnya aksi tekanan jual serta outlook yang masih negatif," tambahnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Equator Swarna Capital Hans Kwee berpendapat hal yang berbeda. Dia menilai masih kecil kemungkinan saham GOTO jatuh ke level Rp 50. Karena menurutnya kondisi perusahaan masih kuat.

"Cuma ada dua player antara transportasi grab dengan GOTO. Untuk alat pembayaran sisa beberapa pemain? Untuk marketplace sisa beberapa pemain? Dan yang punya ekosistem paling banyak GOTO termasuk paling banyak ekosistemnya," ungkapnya.

Kemudian kondisi investor yang tengah melakukan penjualan, menurutnya akan merugikan investor itu sendiri. Mengingat harga tengah mengalami penurunan.

"Tentu kalau turun terus saya pikir ya pasti akan terbatas karena investor harusnya rasional. Penjualan yang dilakukan ketika periode panic selling itu tentu merugikan investor sendiri. Karena orang panik tentu jualan terus jadi rugi," tuturnya.

Ia memprediksi tren sektor teknologi akan cemerlang kembali di tahun depan. Hal ini menjadi angin segar bagi perusahaan teknologi yang tengah mengalami kehancuran tahun ini.

"Memang perusahaan teknologi ini tertekan karena bunga global lebih naik. Tapi kenaikan bunga global itu mungkin sudah akan berakhir di tengah tahun depan. Dimana perusahaan teknologi diprediksi akan mulai kembali tren kenaikan," tutupnya.

(ada/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT