BEJ Pikir-pikir Lagi Delisting Bukaka
Rabu, 02 Agu 2006 18:43 WIB
Jakarta - Rencana Bursa Efek Jakarta (BEJ) menghapus (delisting) saham PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) kemungkinan batal.Setelah mendapat laporan keuangan Bukaka semester I-2006, BEJ mengaku akan melakukan dengar pendapat terakhir (final hearing) dengan manajemen Bukaka sebelum melakukan delisting awal bulan ini."Batas waktu sudah lewat jadi secara formalitas kita panggil, last call," kata Direktur Pencatatan BEJ Eddy Sugito, di sela acara Final Research Report Competition di BEJ, Rabu (2/8/2006)Eddy mengaku telah menandatangani surat pemanggilan manajemen Bukaka. Diharapkan hearing ini dapat dilakukan akhir pekan ini atau awal pekan depan. Eddy menegaskan, langkah tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk melindungi kepentingan investor publik yang ada di perseroan.Dalam dengar pendapat tersebut, BEJ akan memastikan dan mengumpulkan informasi terkait penyampaian laporan keuangan auditan (LKA) terkini yang tidak memperoleh opini disclaimer dari akuntan publik. Selain membahas masalah perkembangan terakhir proses restrukturisasi utang, dan feedback dari pemegang saham minoritas."Kalau Bukaka sanggup menjaga kelangsungan usahanya, sayang kalau di-delisting. Soalnya, ujung-ujungnya investor juga yang rugi," tutur Eddy.Sebelumnya status laporan keuangan perusahaan dalam empat tahun berturut-turut mendapat opini disclaimer dari akuntan publik.Hal ini terkait dengan belum tuntasnya masalah surat utang jenis transferable loan certificate (TLC) senilai US$ 90 juta yang dibeli kreditor.Meski pengadilan negeri sudah melokalisir kasus tersebut pada 21 Oktober 2002, namun belum bisa mengetahui siapa pemegang TLC tersebut.Akibat tidak ada penyelesaian TLC, Bukaka terus mengalami perbedaan prinsip dengan auditor karena TLC dianggap kewajiban yang harus dituntaskan. Sehubungan dengan kasus tersebut, saham Bukaka di BEJ juga telah disuspensi selama 5 tahun terakhir ini. Bukaka mencatat penurunan laba usaha pada semster I-2006 hingga 97 persen menjadi Rp 1,673 miliar, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 69,637 miliar.Penurunan laba usaha ini seiring dengan anjloknya pendapatan usaha 34,5 persen menjadi Rp 159,526 miliar, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 243,725 miliar.Sedangkan laba bersih mencapai Rp 55,310 miliar atau naik 50 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 36,876 miliar.Kenaikan laba bersih ini lebih dikarenakan adanya laba kurs Rp 50,563 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang rugi kurs Rp 34,583 miliar.
(ir/)











































