Ekspor RI Moncer Berbulan-bulan, Kok Rupiah Malah Memble?

ADVERTISEMENT

Ekspor RI Moncer Berbulan-bulan, Kok Rupiah Malah Memble?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 05 Jan 2023 13:38 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali naik tinggi, mendekati Rp 15.300. Per siang ini pukul 14.45 WIB, dolar AS tercatat tembus ke level Rp 15.265.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri bicara soal keanehan yang terjadi pada kinerja ekspor di Indonesia. Yang jadi aneh menurutnya adalah saat neraca dagang surplus berbulan-bulan, namun nilai tukar rupiah malam melemah.

Faisal Basri mengungkapkan penyebab yang membuat nilai tukar Rupiah masih tertahan meskipun neraca dagang terus surplus ada dua hal, konsentrasi pasar yang eksklusif dan hasil ekspor yang 'diparkir' di luar negeri. Dia mengatakan sejauh ini kemampuan ekspor Indonesia tak merata, hanya segelintir komoditas saja yang laku diekspor.

Salah satunya adalah batu bara, namun yang jadi masalah adalah ada konsentrasi pasar pada bisnis batu bara. Faisal Basri menyatakan hanya ada 11 grup konglomerasi saja yang merasakan keuntungan ekspor batu bara, sudah begitu hasil ekspor yang berbentuk dolar 'diparkirkan' di luar negeri.

"Batu bara ini 70% dinikmati oleh 11 grup saja. Sialnya lagi, grup-grup besar ini menaruh hasil ekspornya di luar negeri, ya rupiah jadi nggak menguat," ungkap Faisal Basri dalam Catatan Awal Tahun Indef 2023 yang disiarkan virtual, Kamis (5/1/2023).

Kemudian, ada juga komoditas baja stainless steel yang merupakan hasil hilirisasi dari nikel. Yang disayangkan Faisal Basri adalah ekspor stainless steel sebetulnya terlalu banyak dirasakan oleh perusahaan China. Otomatis hasil dari ekspor yang besar ujung-ujungnya tidak masuk ke Indonesia, akhirnya ekspor tak memperkuat nilai tukar rupiah.

"Jangan bayangkan ini kita nikmati ekspor besi dan baja. Masalahnya, nilai tambah tinggi ini dinikmati oleh hampir semua perusahaan smelter dari China, 22-23 smelter nikel ini adalah dari China," ujar Faisal Basri.

Seperti diketahui, neraca dagang Indonesia di bulan November 2022 lalu surplus sebesar US$ 5,16 miliar. Ekspor tercatat sebesar US$ 24,12 miliar sementara impor cuma Us$ 18,96 miliar.

Namun, sampai hari ini nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS masih menyentuh angka Rp 15.600.

Lihat juga video 'Jokowi Bakal Umumkan Setop Ekspor Bahan Mentah Baru Hari Ini':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT