Perkasanya Dolar AS Berdampak Buruk Bagi Dunia, Kok Bisa?

ADVERTISEMENT

Perkasanya Dolar AS Berdampak Buruk Bagi Dunia, Kok Bisa?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 09 Jan 2023 11:49 WIB
Warga bertransaksi di Valuta Inti Prima, Jakarta, Rabu (9/11/2022). Hari ini kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali mengalami penguatan. Dolar AS pun kembali masuk ke zona Rp 15.700-an.
Foto: Fajar Briantomo
Jakarta -

Dolar Amerika Serikat (AS) menjadi mata uang yang dominan di dunia. Dolar AS memainkan peran kunci dalam perdagangan global.

Bagi warga AS kabar ini mungkin terdengar baik. Tapi bagi sebagian besar negara, kuatnya dolar AS menjadi kabar buruk.

Ekonom di Brookings Institution dan profesor Universitas Cornell, Eswar Prasad menyebut hal ini sebagai paradoks. Banyak negara menggunakan dolar AS karena tidak banyak alternatif.

"Jadi inilah paradoksnya. Seluruh dunia membenci betapa dominannya dolar, namun mereka beralih ke dolar AS, karena benar-benar tidak ada banyak alternatif," katanya, dikutip dari CNBC, Senin (9/1/2023).

Hampir 60% dari cadangan devisa bank sentral dunia, atau uang yang disimpan untuk menutupi keadaan darurat diinvestasikan dalam aset berbentuk dolar.

Pangsa dolar AS sebagai mata uang pembayaran di seluruh dunia diperkirakan lebih dari 40%. Dolar AS juga menghasilkan lebih dari 60% utang internasional dan 50% pinjaman global.

Selain menjadi mata uang untuk transaksi keuangan internasional, komoditas seperti minyak juga dibeli dan dijual dalam dolar AS.

Dominasi dolar dalam transaksi juga meluas ke sistem perbankan AS, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dan moneter Amerika.

"Ini pada akhirnya akan memperkuat dominasi dolar lebih jauh lagi," kata Prasad.

Menurutnya, hal ini menjadi masalah bagi negara berpenghasilan rendah. Apalagi jika negara tersebut punya utang luar negeri tinggi.

"Itu tentu menjadi masalah serius bagi negara berpenghasilan rendah yang memiliki tingkat utang luar negeri yang tinggi, terutama utang dalam bentuk dolar," tuturnya.

Lihat juga video 'Siasat Menkes Rayu Investor ke RI dengan Angka 2.700 Miliar Dolar AS':

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT