Hanya 0,25% Investor Wanita Yang Bermain di Pasar Modal
Sabtu, 05 Agu 2006 19:10 WIB
Jakarta - Bursa Efek Jakarta (BEJ) terus membidik potensi investor wanita agar lebih banyak berinvestasi di pasar modal.Saat ini dari total sekitar 300-500 ribu investor di pasar modal, jumlah wanita yang berinvestasi baru sebesar 0,25 persennya. Jumlah investor tersebut tersebar di saham, reksa dana dan obligasi.Angka ini jauh lebih rendah dibanding investor wanita di pasar modal Korea Selatan, Hongkong dan Singapura. Investor wanita di pasar modal Korea Selatan bahkan telah mencapai 20-30 persen. Hal itu diungkapkan Direktur Pencatatan BEJ, Eddy Sugito disela acara workshop saham untuk investor perempuan di Gedung BEJ, Sabtu (5/8/2006). Jumlah investor di pasar modal Indonesia secara keseluruhan, ungkap Eddy, saat ini memang sangat menyedihkan. Padahal ada potensi pemilik dana atau orang kaya sebesar 10 persen dari total penduduk 230 juta orang.Sayangnya orang kaya di Indonesia lebih suka melempar dananya kedalam deposito karena merasa lebih nyaman. Sementara Malaysia dengan jumlah penduduk 23 juta mempunyai investor di pasar modal sebanyak 3 juta orang.Menurut Eddy, semakin mapan suatu negara maka semakin banyak investor wanita yang menjadi trigger (pemicu) untuk berinvestasi di pasar modal. Kondisi ini ungkap Eddy, bisa tercipta jika didukung suku bunga yang relatif kecil, seperti Singapura yang hanya 3-4 persen dan Jepang yang sempat 0 persen ."Kalau di Jepang orang taruh dana di bank gak ada bunganya saya mesti beli apa, maka lari ke pasar modal yang return-nya 40 persen. Bayangkan orang dengan 0 persen dan 40 persen, rangsangan yang luar biasa. Begitu juga yang terjadi di Korea Selatan, Singapura, Thailand dan Malaysia," papar Eddy.Wanita di negara-negara tersebut, ungkap Eddy, mau tidak mau harus meluangkan waktu memonitor saham, untuk membantu suami mencari tambahan penghasilan. Pasalnya, mau tidak mau mereka harus menggerakkan investasinya ke saham karena bunga deposito sangat kecil. "Saya percaya wanita Indonesia punya investment insting yang tidak kalah dengan mereka, cuma karena saat ini tidak ada kebutuhan yang dirasa cukup mendesak," ujar Eddy.Maka itu, ungkap Eddy, BEJ terus melakukan sosialisasi terhadap calon investor perempuan yang dilakukan setiap satu bulan sekali. Program edukasi dan sosialisasi ini makin digenjot tahun ini untuk meningkatkan basis investor di pasar modal."Tren kedepan kita perkenalkan lagi, karena orang takut main saham berarti judi. Ketika investor rugi cerita kemana-mana, tapi tidak pernah cerita kalau untung. Padahal dia terus main bursa, bohong kalau dia rugi, untungnya gak pernah di-sharing," katanya.Selain Jakarta, BEJ juga membidik investor perempuan di sejumlah kota besar seperti Pekanbaru, Palembang, Semarang, Medan dan Bandung. Ditargetkan dengan adanya sosialisasi dan edukasi pasar modal, jumlah investor perempuan akan meningkat 15-20 persen dari total seluruh investor.
(ir/)











































