BI Rate Turun, Pelaku Pasar Masih Belum Lega
Selasa, 08 Agu 2006 13:46 WIB
Jakarta -
Meski penurunan BI rate hingga 50 basis poin menjadi 11,75 persen sudah sesuai prediksi pasar, namun ini belum membuat pelaku pasar lega. Investor khawatir kondisi ini tidak didukung oleh hasil rapat the Fed nanti malam."The Fed juga akan rapat malam ini. Kalau The Fed mempertahankan suku bunga, maka langkah BI sudah sesuai, tapi kalau naik pelaku pasar akan shock," ujar Edwin Sinaga dari Kuo Capital Raharja, Selasa (8/8/2006).Edwin menilai, penurunan BI rate hingga 50 basis poin sedikit agresif, karena sebelumnya pelaku pasar menduga BI akan bersikap konservatif dengan menurunkan 0,25 persen. Pasalnya, sejumlah bank sentral justru cenderung menaikkan suku bunga karena harga minyak yang terus naik melewati level US$ 75 per barel. Sehingga langkah BI seperti melawan arus. Meski demikian, penurunan BI rate memiliki sisi positif karena akan mengurangi beban BI untuk membayar bunga. Menurut Edwin, selama penurunan 50 basis poin didukung oleh kondisi ekonomi yang bagus maka pasar akan merespons. "Tapi perlu diingat juga minyak naik lagi US$ 2 per barel. Kalau BBM ikut naik, inflasi ikut naik, ada juga kekhawatiran kondisi global," ujar Edwin.Emiten yang terpengaruh langsung penurunan BI rate ini menurut Edwin, adalah bank. Sedangkan emiten properti baru merasakan dampaknya jika suku bunga SBI dan bank telah turun."Kalau di pasar dampaknya belum jelas. Untuk saham perbankan sudah terapresiasi terlebih dahulu jadi dampaknya akan terlihat hari Kamis setelah hitung-hitungan lagi," tandas Edwin.Sementara Head of Research PT Kresna Securities, Adrian Rusmano, menilai positif penurunan BI rate kali ini, karena ikut menjaga rupiah di posisi yang stabil."Pada sesi II kemungkinan indeks saham bisa naik lagi 10 poin karena kondisi regional bagus. Sentimen positif kalau suku bunga turun, deposito turun karena investor akan melihat peluang investasi di non bank seperti saham dan obligasi," jelas Adrian.Adrian juga berharap dengan penurunan BI rate bisa menggerakkan sektor rill. Apalagi jika penurunannya sampai akhir tahun.
(ir/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































